Langit7, Bandung - Fenomena aneh spirit doll atau boneka arwah yang belakangan ramai diperbincangkan, mendapatkan sorotan berbagai pihak, salah satunya akademisi.
Dosen Departemen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Retno Hanggarani Ninin mengatakan, fenomena spirit doll bisa dilihat dari sudut pandang psikologis seseorang berdasarkan proses tumbuh kembangnya.
Dia menjelaskan, setiap orang terlahir dengan kapasitas psikologis yang memungkinkannya mampu bertahan menghadapi situasi atau persoalan apa pun. Perkembangan kapasitas psikologis dipengaruhi oleh pola asuh, pendidikan formal, serta pendidikan sosial.
“Kalau proses itu benar dan baik, dia akan tumbuh dengan kemampuan yang cukup untuk menghadapi persoalan hidupnya,” kata Ninin seperti dilansir dari Kanal Media Unpad, Minguu (9/1).
Baca juga: Apa Akibatnya Jika Anak Terpapar Konten Spirit Doll?Kendati demikian, tidak semua orang memiliki pengalaman positif dalam proses tumbuh kembang psikologisnya. Pengalaman pola asuh, pendidikan, dan relasi tertentu dapat mempengaruhi kemampuan psikologis menjadi kurang mumpuni atau bahkan tidak dimiliki.
Ketidakmampuan untuk bertahan itu menyebabkan seseorang memilih cara tertentu untuk menguatkannya. Salah satunya menggunakan alat bantu seperti fenomena spirit doll.
“Pada dasarnya, jika seseorang dalam tumbuh kembangnya mengalami proses yang positif dan ideal, maka hal-hal itu tidak diperlukan,” jelas Ninin yang juga seorang Psikolog.
Menurutnya, batas kewajaran terhadap fenomena itu bergantung pada peran pemilik boneka tersebut. Artinya, perlakuan anak-anak kepada boneka layaknya teman, masih merupakan hal wajar, dilihat dari faktor usia.
“Ketika anak-anak berkomunikasi dengan boneka, seolah-olah bonekanya hidup dan menjadi teman bermain, itu adalah sesuatu yang wajar. Kita tidak menganggapnya wajar ketika sudah masuk tahapan usia lanjut,” jelas Ninin.
Dia menjelaskan, seseorang di usia dewasa yang masih memperlakukan boneka layaknya usia anak-anak, menunjukkan kondisi psikologis bahwa dia sedang membutuhkan cara tersebut.
Secara tidak langsung, hal itu menunjukkan ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan hidupnya. Sehingga membutuhkan "teman" berdiskusi, mendengar, dan berbicara.
Baca juga: Bagaimana Hukum Membuat dan Jual Beli Spirit Doll?Apalagi, lanjut dia, ketiadaan pendamping sebagai pendengar, sekaligus untuk berkomunikasi, dan memberikan dukungan, bisa jadi membuat seseorang memilih untuk memiliki “teman komunikasi” yang lain.
“Kalau kita lihat dari sisi tradisi dan budaya, perilaku itu bisa jadi tidak lazim. Akan tetapi, kenyataannya ada orang yang memilih cara itu untuk membuatnya memiliki teman berkomunikasi atau teman hidup. Padahal, ‘teman’ yang dia pilih itu tidak bisa menjadi partner untuk memberikan komunikasi atau emosi balasan,” jelasnya.
Perlu teman pendampingDalam kasus tersebut, seseorang yang menjadikan boneka sebagai pelariannya perlu mendapatkan pendamping.
Ninin menjelaskan, orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan psikologi anak agar berkembang dengan optimal. Selain itu, juga sebagai
support system demi menyangga kondisi psikologis tertentu yang tampaknya memerlukan dukungan.
Dampak
support system ini, kata Ninin, bisa bersifat konstruktif (membangun), bisa pula destruktif (menghancurkan). Konstruktif terjadi apabila apa yang dilakukan anggota keluaga sesuai dengan apa yang diinginkan orang yang didukung.
"Jika dukungan tidak sesuai dengan yang diharapkan, support system bisa menjadi destruktif. Arah support ini bisa ke mana, bergantung kesepakatan antara anggota keluarga yang men-support dengan anggota keluarga yang di-support,” kata Ninin.
Baca juga: Digandrungi Selebritas, Spirit Doll Sebabkan Pendangkalan AkidahMengenai spirit doll, Ninin menegaskan agar orang yang ingin membelinya berpikir dua kali dan memperhatikan urgensi dari memiliki boneka tersebut.
Menurutnya, ketika orang merasa perlu membelinya karena dianggap memberikan efek psikologis yang menenangkan, saat keadaan yang membutuhkan ketenangan, maka situasi ini mesti diwaspadai.
“Yang perlu diwaspadai juga adalah ketika seseorang membeli boneka itu hanya karena melihat efek positif dari model yang memilikinya, yang ada di media sosial, padahal yang dilihat di media sosial tersebut belum tentu benar,” tambahnya.
(zul)