Ramadhan adalah bulan peningkatan intelektualitas. Kita diminta memperbanyak membaca Al-Quran yang merupakan referensi paling pokok bagi setiap muslim.
Kuatnya godaan dan tipu daya setan membuat manusia terjerumus ke dalam jurang maksiat, kemudian ketika sadar akan kesalahannya dan menyesal atas perbuatan itu, dia lalu bertobat dan mohon ampun kepada Allah. Rahmat Allah yang begitu luas menyediakan ampunan yang tak terbatas.
Belum lama ini, masyarakat Indonesia ramai dengan viralnya foto pemberkatan di sebuah gereja di Semarang antara seorang wanita berhijab dan seorang pria non-Muslim.
Adalah pengusaha yang juga pimpinan PT Citra Marga Lintas Jabar, Mohammad Jusuf Hamka, yang kehidupannya berbeda jauh dengan crazy rich kekinian. Mualaf yang diberi nama oleh Buya Hamka ini menerapkan hidup sederhana dalam kesehariannya.
Rasulullah telah mengajarkan satu doa ketika hujan turun. Doa itu sangat pendek, hanya tiga kata. Namun, mengandung ribuan hikmah ketika mentadabburi maknanya.
Ulama kelahiran 17 Februari 1908 itu menjelaskan, bahasa Arab berfungsi memperdalam ajaran Agama. Pemahaman agama mendalam membantu seseorang memperkuat iman.
Ada sejarah yang terjadi hanya karena pengaturan pengeras suara di masjid dan musala, menyebabkan kerusuhan Geger Cilegon atau disebut sebagai Pemberontakan Petani Banten pada tahun 1888, versi sejarawan DR Sartono Kardodirjo.
Buya Hamka merupakan MUI pertama dan dikenal sebagai tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah. Sepanjang hidupnya, dia menjadi ulama besar yang gigih membela Islam.
Akad adalah momen krusial dan sakral bagi calon pengantin. Masjid bisa menjadi pilihan untuk menjaga kesakralan dan mendukung kesuksesan sebuah acara pernikahan.
Penulisan tafsir Al-Qur'an terbanyak muncul dalam rentan masa abad ke-20. Pada awal abad ini bermunculan literatur tafsir yang ditulis ulama Tanah Air.
Buya AR Sutan Mansur tumbuh dengan pendidikan agama yang kuat. Itu menjadi salah satu alasan karakter anti penjajahan melekat pada kakak Ipar Buya Hamka itu.
Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan, waktu Ashar bagi bangsa Arab adalah waktu berleha-leha. Sudah jadi kebiasaan masyarakat Arab kala itu nongkrong sore hari melepas kepenatan selepas beraktivitas seharian.
Selain dari shalat, mengingat sambil menyebut nama Allah dapat dilakukan seacara perlahan-lahan atau lirih. Sebab Allah mendengar walaupun suara yang sehalus-halusnya, bahkan walaupun hanya kata hati.