Sepanjang pandemi Covid yang berlangsung sejak Maret 2020 hingga saat ini, tak hanya lansia dan orang dewasa yang menjadi korban, melainkan juga anak-anak.
Orang tua harus menanamkan ke dalam diri anak bahwa yang bathil adalah bathil, meskipun banyak pengikutnya. Sesuatu yang benar adalah benar walau sedikit pengikutnya. Seseorang terpandang karena adab, bukan dengan pakaian atau penampilan luarnya. Orang terpandang karena ilmu dan akhlak, bukan dengan nasab dan kabilah.
Khitanan Ceria tahun ini, insya Allah akan dilaksanakan di enam titik di lima provinsi di Indonesia dengan target 500 anak sampai dengan Desember 2021 nanti.
Kehadiran teknologi membawa banyak keuntungan dalam berbagai aspek kehidupan. Manfaat yang bisa dirasakan langsung untuk anak-anak adalah sebagai tempat berekspresi dan berkreativitas.
Human Initiative memberikan beasiswa bagi anak-anak yatim di sejumlah daerah terdampak pandemi Covid-19. Bantuan ini diharap dapat meringankan beban mereka.
Sholihin sudah 30 tahun mengabdi jadi guru meski digaji Rp500.000 per bulan. Dia tetap semangat di usia 65 tahun mendidik anak-anak di sekolah Islam Sukabumi.
Ajarkan anak Al Quran dan hadist harus dimulai dari usia PAUD. Sebab mereka harus disiapkan sebagai generasi yang tumbuh dengan kesadaran sebagai hamba Allah.
Angkringan jadi syiar dakwah untuk anak muda di tempat tongkrongan, sehingga Islam tak hanya lekat di dalam masjid, tapi juga di tempat kumpul para milenial.
Orang tua harus mendidik anak mereka untuk mentauhidkan Allah, mempercayai para nabi dan rasul-Nya, memahami kebenaran, memiliki keimanan yang kuat, dan mengedepankan agama. Pendidikan islami sangat penting agar kita tidak membawa anak-anak kembali ke zaman jahiliyah.
Hukum anak-anak bermain di masjid kerap disalahartikan. Kehadiran mereka dianggap menganggu kekhusyukan ibadah, padahal Rasul mencontohkan sikap yang berbeda.
Komunitas 1.000 guru menjadikan gadget sebagai teman anak belajar. Diperlukan literasi digital agar mereka tahu bahwa smartphone bukan untuk bermain games.
Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak dan Unicef tahun 2021 menyebutkan ada 22.227 yatim. Sedangkan anak yang putus sekolah berjumlah 938.