Perjalanan kekuasaan Islam dari kesalehan khulafaur rasyidin menuju sistem kerajaan yang menutup pintu musyawarah, memicu gerakan oposisi batin yang melahirkan tasawuf di tengah kemelut politik.
Keberhasilan militer dan politik Islam awal memicu dominasi hukum formal yang kaku, melahirkan gerakan tasawuf sebagai bentuk protes batin dan pencarian esensi ketuhanan di tengah gemerlap kekuasaan duniawi.
Di tangan Abu Bakr, kekuasaan bukan tentang ambisi pribadi melainkan pengabdian mutlak pada wahyu. Kelembutan hatinya menyimpan kekuatan iman yang mampu menjaga keutuhan Islam pasca wafatnya Nabi.
Kebijakan pertukaran rampasan perang membuka jalan bagi akumulasi kekayaan segelintir elite. Di Irak dan Hijaz, kecemburuan sosial membubung dan berubah menjadi amarah politik yang menjerumuskan kekhalifahan ke krisis.
Ketegangan sosial di awal ekspansi Islam merayap tanpa terpantau. Umar fokus pada penaklukan dan konsolidasi, sementara bibit-bibit fitnah bersemi di bawah permukaan, meletup di masa Utsman.
Kolonialisme membelah arah Islam di Nusantara: Inggris merangkul elite lama, Belanda mendekati kaum pembaru. Dari benturan sayyid, reformis, dan kolonial lahirlah kesadaran baru: Islam sebagai ruang perjuangan bangsa.
Indonesia sering dipuji sebagai negara Muslim demokratis. Tapi dari bilik pemilu hingga mimbar dakwah, tafsir keagamaan terus diuji oleh godaan politik identitas.
Ketika negara panik, telepon ulama kembali berdering. Saat krisis legitimasi, suara mereka menjadi penyejuk. Namun, begitu situasi normal, mereka kerap hilang dari meja keputusan. Mengapa pola ini berulang?
Di lereng Aqabah, dua perempuan berdiri sejajar dengan 73 laki-laki, mengikrarkan baiat yang mengubah sejarah. Momen ini bukan sekadar ritual, tapi pengakuan sosial dan spiritual terhadap martabat perempuan.
Pernyataan itu seolah mengafirmasi apa yang sudah lama disaksikan: betapapun keduanya sering menegaskan diri sebagai gerakan dakwah dan pendidikan, pengaruh politik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama nyaris tak terhindarkan.
Umar bin Khattab meminta kepada Ali bin Abi Thalib untuk membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Hanya saja, Ali menolak dengan mengatakan dirinya lebih berhak daripada Abu Bakar.
Dalam segi struktural dan prosedural politik, dunia Islam sepanjang sejarahnya, mengenal berbagai variasi dari masa ke masa dan dari kawasan ke kawasan, tanpa satu pun dari variasi itu dipandang secara doktrinal paling absah.