Syeh Muhammad Jaber menjelaskan, balasan terbaik yang bisa dilakukan umat Muslim kepada orang yang membakar kita suci umat Islam adalah dengan kembali kepada Al Quran.
Tak hanya dunia Islam yang mengecam aksi tersebut, namun juga komunitas Kristen dan Yahudi dari berbagai belahan dunia ikut mengutuk tindakan tercela ini.
Namun, Buya Yahya menekankan, pembakaran Al Quran tersebut dengan tujuan untuk memuliakan kalimat-kalimat Allah SWT. Hal tersebut pernah terjadi di zaman sahabat Utsman bin Affan dengan niat memuliakan.
Aksi Paludan membakar Al Quran bukan baru kali ini terjadi. Sebelumnya pada 14-15 April 2022, Paludan membakar Al Quran di berbagai kota di Swedia. Bersama kelompoknya Paludan menyiarkan secara langsung aksi tersebut.
Perdana Menteri (PM), Swedia Ulf Kristersson mengecam aksi pembakaran Al-Quran tersebut. Dia menyebut, tindakan itu sebagai provokasi yang tidak semestinya dilakukan meskipun Swedia menjunjung kebebasan berpen
Manajemen PAZ Al Kasaw Pusat tak menampik banyak dinamika selama praktik. Begitupun tentang pengkaitan ayat yang bisa dikatakan berlebihan dalam penafsiran ayat maupun hadits.
Salat sebagai salah satu rukun Islam merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap Muslim. Namun, sebenarnya salat tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga kebutuhan bagi hamba yang beriman. Sebagaimana dijelaskan dalam dua ayat ini.
Baginya, Al-Qur'an bisa menjawab semua pertanyaan dan keberatan yang diajukannya, di hari berikutnya saat membaca Alquran, dia selalu bisa mendapatkan jawabannya.
Sebagian dari petunjuk dan pertolongan itu ditempatkan di dalam Al-Qur'an. Sebagai umat Islam sepatutnya kembali ke Al Quran di setiap saat, baik masa baik ataupun buruk.
Anak harus didekatkan dengan Al-Quran sejak dini agar hidupnya terpandu oleh petunjuk Allah Ta'ala hingga akhir hayat. Founder Komunitas Sahabat Al-Qur'an, Ustadzah Ramadini Aini, menyebut pendekatan itu harus dilakukan dengan cara menyenangkan dan selalu bahagia.
Mengajari anak-anak khususnya balita agar bisa membaca Al-Qur'an tidak seperti mengajari anak-anak yang sudah baligh. Anak balita lebih suka bermain. Maka itu, proses mengenalkan huruf harus diatur sedemikian rupa agar tidak merasa belajar, tapi merasa bermain.