Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk mengusut tragedi Kanjuruhan mestinya bukan dari Pemerintah. Orang-orang tersebut diisi kelompok independen.
Ada 3 tanggung jawab pemerintah dalam tragedi Kanjuruhan. Kematian ratusan suporter Aremania akibat tembakan gas air mata ini menjadi pelanggaran HAM berat.
Kapolresta dan Anggota Polresta Malang memohon ampun dan maaf kepada keluarga korban tragedi Kanjuruhan dengan bersujud bersama-sama pada apel rutin, Senin (10/10/2022). Ketua MUI KH Cholil Nafis mengingatkan hukum bersujud kepada selain Allah SWT.
Kepolisian RI melalui Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo menyatakan gas air mata bukan penyebab kematian 131 orang dalam Tragedi Kanjuruhan.
Anggota TGIPF Nugroho Setiawan mengaku telah melihat rerkaman CCTV, khususnya pintu 13 saat kepanikan massal pecah. Situasi yang mengerikan terjadi di pintu tersebut saat gas air mata menyebar di dalam stadion.
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, ada sejumlah gas air mata yang ditembakkan sudah kedaluwarsa sejak 2021. Dedi mengatakan hanya 11 gas air mata yang ditembakkan di dalam lapangan.
Usai ditetapkan sebagai tersangka, Abdul Haris mengaku ikhlas atas keputusan pihak Kepolisian. Namun, ia meminta penyidik turut mengusut tuntas penembakan gas air mata ke tribun.
Tragedi maut di Stadion Kanjuruhan Malang yang menewaskan lebih dari 130 korban jiwa tak hanya jadi duka bagi sepak bola Indonesia, tapi juga duka di seluruh dunia. Hal itu ditunjukkan oleh suporter Bayern Munchen dan Borussia Dortmund.
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan menemui Aremania dan melihat langsung kondisi Stadion Kanjuruhan di Malang Jawa Timur.
Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII), Qurotul Uyun, mengulik perspektif psikologi peristiwa duka di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu.
Menurut dia, kejadian sebenarnya saat sekitar 15-20 menit pasca-peluit wasit mengakhiri laga. Suasana saat itu masih terkendali, walaupun banyak suporter masuk ke lapangan.
Akhmad Hadian Lukita lahir pada Maret 1965 di Bandung, Jawa Barat. Diketahui dirinya berhasil menyelesaikan pendidikan strata 1 di jurusan Arsitektur sebuah perguruan tinggi swasta.
Tokoh Bonek, pendukung Persebaya Surabaya Andi Peci berbicara mewakili para suporter menjelaskan, pertemuan dengan TGIPF merupakan upaya bersama agar persoalan Tragedi Kanjuruhan segera diselesaikan.