Operasi militer Israel di Kota Rafah, Gaza selatan telah membuat perundingan gencatan senjata dengan Hamas menemui jalan buntu. Perundingan diyakini tidak mencapai kesepakatan karena serangan terus menerus Israel di Rafah.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak untuk segera melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza karena Israel telah membunuh lebih dari 35.000 warga Palestina di wilayah tersebut sejak Oktober lalu.
Amerika Serikat (AS) tampaknya meremehkan serangan mematikan Israel di Rafah, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut sifatnya terbatas meskipun ada kekhawatiran atas nasib lebih dari 1,5 juta warga Palestina yang berlindung di kota Gaza selatan.
Militer Israel telah menguasai Jalur Gaza di perbatasan Rafah dengan Mesir, dan melancarkan serangan di kota selatan tersebut seiring prospek kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas belum menemui titik temu.
Amerika Serikat (AS) mengatakan pihaknya sedang mengkaji tanggapan Hamas terhadap usulan gencatan senjata di Gaza, namun menolak memberikan rincian mengenai perjanjian tersebut. AS juga menolak keras invasi militer Israel ke Rafah, sebuah kota di bagian selatan Gaza.
Arab Saudi telah memperingatkan Israel untuk tidak menginvasi Kota Rafah, bagian selatan Gaza. Pasalnya invasi ini berpotensi menjadi operasi militer berdarah dan sistematis untuk menyerbu seluruh wilayah Jalur Gaza dan menggusur penduduknya.
Negosiasi selama tiga hari dengan Hamas mengenai gencatan senjata di Gaza gagal mencapai terobosan. Hal ini terjadi kurang dari sepekan sebelum bulan Ramadhan,
Di akhir pekan kemarin telah terjadi persetujuan gencatan senjata antara pejuang Palestina (saya sengaja memakai kata Palestina karena ada kecenderungan saat ini memisahkan Gaza dari Palestina)
Hamas dan Israel menyepakati perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina pada Rabu (22/11/2023). Perjanjian itu menyebutkan Israel akan menghentikan semua aksi militer di Gaza
Para pengunjuk rasa pro-Palestina yang menuntut gencatan senjata di Gaza memblokir semua jalur barat Jembatan Teluk San Francisco-Oakland selama berjam-jam.