Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menilai perilaku berkemajuan merupakan jalan kebangkitan peradaban Islam. Pasalnya, umat Islam saat ini memiliki masalah kesenjangan antara cita-cita dan fakta dalam membangun peradaban.
Cendekiawan Muslim Prof Din Syamsuddin mengatakan Indonesia, khususnya umat Islam, kehilangan sosok ulama berwawasan keislaman yang luas atas berpulangnya KH Prof Ali Yafie.
Pernyataan tersebut merespons sikap MK terhadap permohonan judicial review (JR) oleh PP Muhammadiyah terhadap tiga Undang-Undang yang dianggap merugikan negara.
Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC), Din Syamsuddin, menilai, wasathiyah Islam atau jalan tengah Islam merupakan solusi terhadap kerusakan peradaban manusia.
Cendekiawan muslim, Prof Din Syamsuddin mendorong terjadinya restrukturisasi kepemimpinan pusat Muhammadiyah. Dia menilai, selama ini PP Muhammadiyah lebih tampak sebagai syuriah (pembina) dibanding tanfidziyah (eksekutif).
Syaikhul Azhar, Prof Ahmad Muhammad Al-Tayyib menyampaikan tiga asas persaudaraan dan kerja sama kemanusiaan menurut Al-Qur'an. Pertama adanya kemajemukan sebagai ketentuan ilahi.
Chairman Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Din Syamsuddin menyatakan masalah yang paling mendesak diselesaikan saat ini adalah ketiadaan perdamaian.
Cendikiwan muslim, Prof Din Syamsuddin menilai pemerintah tak perlu terlibat mengenai perbedaan pemahaman keagamaan di masyarakat. Dia menyampaikan pandangannya soal adanya permintaan untuk melarang paham Wahabi.
Chairman Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Din Syamsuddin berharap World Fulcrum of Wasatiyat Islam akan menjadi gerakan global yang didukung para figur muslim dari berbagai negara.
Menurut Din Syamsuddin, PP Muhammadiyah satu periode terakhir sudah bagus dengan kiprah dan performa efektif. Hal ini ditunjukkan, bertambahnya amal usaha baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial, dan ekonomi.
Menurut Din, kolaborasi lintas agama adalah suatu kemustian. Karena tidak ada satu kelompok agama yang bisa mengatasi masalah sendiri, tapi harus dalam bentuk kerjasama.