Banyak tokoh Islam yang berjuang melawan penjajahan Belanda dengan cara mendirikan pesantren, seperti yang dilakukan oleh Syaikh Yusuf Al-Makassari, Syaikh Abdul Samad Al-Palimbani, dan lainnya.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qomas melihat pesantren memiliki posisi yang strategis sebagai basis alternatif ekonomi umat. Karena itu, ia mendorong pesantren untuk bisa beradaptasi dan berinovasi dengan perkembangan teknologi saat ini.
Tercatat pada triwulan pertama 2021, Indonesia memiliki 31.385 pondok pesantren dengan jumlah santri 4,29 juta. Potensi itu masih bisa dikembangkan lebih maksimal.
Perlawanan ulama dan santri terhadap penjajah sudah berlangsung berabad-abad, namun semakin mengkristal pasca Perang Dunia I. Di antaranya melalui pengorganisiran ide kemerdekaan, keislaman dan kebangsaan.
Peran pesantren dan ulama tak diragukan lagi dalam memperjuangkan hingga mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. LANGIT7.ID berkesempatan mewawancarai Rektor INAIFAS Jember untuk menggali lebih dalam peran pesantren dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, mengatakan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tahan banting hingga saat ini dalam mewujudkan peradaban Islam di Indonesia.
Pesantren selain menjadi institusi pendidikan tertua di Nusantara, juga dikenal sebagai basis perjuangan melawan penjajah. Hal itu terjadi sebab pesantren amat mencintai tanah air.