LANGIT7.ID, Jakarta - Perlawanan ulama dan santri terhadap penjajah sudah berlangsung berabad-abad, namun semakin mengkristal pasca Perang Dunia I. Di antaranya melalui pengorganisiran ide kemerdekaan, keislaman, dan kebangsaan.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI mengungkapkan bahwa para ulama memiliki benang merah pemahaman yang sama dalam menyatukan Islam dan kebangsaan.
Gus Rijal menyebut, di era 1910-an, para ulama Indonesia memilih melekatkan istilah Wathan (tanah air) dalam organisasi maupun madrasah yang didirikan. KH A. Wahab Chasbullah mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), Far'ul Wathan (Elemen Tanah Air), dan Hidayatul Wathan.
"Lalu KH Ahmad Dahlan menamakan gerak kepanduan Muhammadiyah dengan nama Hizbul Wathan, KH Masjkoer (kelak menjadi Panglima Barisan Sabilillah di era revolusi fisik) merintis madrasah Misbahul Wathan (Pelita Tanah Air) di Malang, yang kemudian menjadi cabang dari Nahdlatul Wathan Surabaya yang didirikan oleh Kiai Wahab. Bahkan, perkenalan dengan Kiai Wahab dilakukan melalui mimpi," terang Gus Rijal kepada Langit7.id, Senin (17/8/2021).
Bersama KH. Abdullah Ubaid dan KH. Thohir Bakri, Kiai Wahab juga mengorganisir para pemuda pada era 1920-an dalam organisasi Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), yang kelak menjadi Gerakan Pemuda Ansor.
Di era 1930-an, di berbagai Cabang Madrasah Nahdlatul Wathan (Malang, Jombang, Semarang, dan beberapa kecamatan di Surabaya), Mars Syubbanul Wathan yang kita kenal sekarang dengan mars Ya-lal Wathan, dikumandangkan seminggu sekali, diiringi dengan lagu Indonesia Raya secara sembunyi-sembunyi.
Kelak, kata Gus Rijal, kaderisasi yang dilakukan oleh Kiai Wahab dipanen pada saat revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan RI, karena para santri yang beliau bina di Nahdlatul Wathan banyak yang menjadi anggota Laskar Hizbullah, Barisan Sabilillah, hingga birokrat pasca pengakuan kedaulatan RI, 1950.
Selain itu, di kemudian hari Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan pada 1 Maret 1953 yang punya basis kuat di NTB. Termasuk KH. Hasbiyallah (Mertua Kiai Enha), sahabat KH. A. Wahid Hasyim, yang mendirikan Ponpes Al-Wathoniyah di Jakarta yang berkembang dengan varian cabangnya di berbagai daerah.
Baca Juga: Pengeran Diponegoro, Bergerilya Melawan Penjajah Sambil Berdakwah(jqf)