Lembaga-lembaga keagamaan tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga mengajarkan terkait dengan ilmu-ilmu di mana dia bisa bertahan (secara ekonomi).
Ustadz Abdul Qohir, pencipta nasyid menjelaskan, nasyid itu juga mengingatkan masyarakat, pesantren tidak menghambat perkembangan ilmu, sosial, dan mental, serta menghambat kebahagiaan masa muda.
Guna mewujudkan Indonesia Maju 2045, dibutuhkan banyak tenaga ahli baru dengan kompetensi yang relevan. Peran pesantren sangat penting untuk menciptakan santri-santri intelektual yang adaptif dengan perkembangan zaman itu.
Keterbukaan pesantren dengan masyarakat sekitar menjadi poin yang perlu diperhatikan, untuk menghindari kecurigaan suatu pesantren yang bersifat eksklusif.
Cendekiawan muslim tidak hanya berbicara soal dakwah. 70 persen pemimpin pada 2030 merupakan anak muda terlebih pondok pesantren, yang mengakar di masyarakat.
Selain tentang keagamaan, akhlak dan berkehidupan, Nasionalisme juga selalu diajarkan di pesantren. Pesantren selalu hadir ketika ada ancaman yang datang.
Salah satu wujud kontribusi pesantren pasca kemerdekaan adalah banyak tokoh berlatar belakang pendidikan pesantren yang menjadi pemimpin besar di Indonesia.
HNW menilai banyak kalangan pesantren yang menyampaikan aspirasi dan kritik karena keanggotaan Majelis Masyaikh yang ditetapkan Menteri Agama berjumlah 9 tokoh.
Sejak berdiri hingga saat ini, Sidogiri tidak pernah mau menerima bantuan pemerintah. Tawaran demi tawaran datang, namun Sidogiri tetap berpegang pada prinsip.
Di pesantren, ada pengawasan 24 jam dan kultur berbeda dengan sekolah biasa. Jika tidak dipersiapkan sebaik mungkin, orang tua justru bisa mendapat kekecewaan.