LANGIT7.ID, Jakarta - Dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) menilai santri di pondok pesantren memiliki peluang besar terbebas dari dampak negatif teknologi, salah satunya kecanduan
game online. Ini karena pondok pesantren mengontrol ketat penggunaan teknologi.
UAS menyebut, banyak anak-anak saat ini yang rusak akibat
game online. Tak hanya rugi waktu, mereka juga terdampak masalah psikologis. Ia menganalogikan dampak negatif
game online dengan kepala rusak.
"Bapak ibu yang sudah anaknya masuk ke pesantren, selamat, Pak," kata UAH melalui video yang diunggah di akun
Instagram-nya, dikutip Senin (21/2/2022).
Saat ini, kata dia, banyak anak yang mengalami kepala rusak meski tidak keluar rumah. Mereka itu adalah anak-anak yang kecanduan teknologi, sehingga tak punya lagi batas-batasan. Lebih parah lagi anak-anak yang kecanduan
game.
Meski tak keluar rumah, isi kepala mereka sejatinya rusak. "Kepalanya memang tidak pecah, tapi isi kepalanya hancur. Dia di dalam kamar, kamarnya dikunci. Di dalam rumah, rumahnya dikunci. Di dalam kompleks, kompleksnya dikunci, ada security tapi kepalanya rusak," kata UAS.
Ini yang membuat pendidikan pesantren sangat relevan di era teknologi saat ini. Pesantren tidak mengharamkan teknologi, tapi memiliki aturan ketat, sehingga santri tidak bebas berselancar di dunia maya.
Meski begitu, banyak pesantren yang sudah memiliki sistem sendiri agar para santri tidak ketinggalan zaman. Para santri tetap diperkenalkan teknologi terkini, tetapi berada dalam ruang kontrol para ustadz-ustadzah.
Tentu, itu membuat santri sangat minim terkena dampak negatif teknologi. Santri memiliki peluang besar terhindar dari kecanduan game online, yang menurut UAS merusak kepala anak.
"Siapa yang merusak kepalanya? Main
game online. Ya enggak apa-apa, tapi enggak tahu shalat, enggak tahu semuanya. Tiap hari pagi, petang, siang, malam main
game online terus," kata UAS.
(jqf)