Menteri Agama bahas empat isu strategis di dialog lintas agama: kerukunan umat, kurikulum cinta, pelestarian lingkungan, dan penguatan nasionalisme. Simak gagasan moderasi beragama terbaru!
Menteri Agama RI perkenalkan Kurikulum Cinta, terobosan pendidikan berbasis kasih sayang untuk memperkuat toleransi beragama. Program ini didukung NU dan MUI untuk satukan keberagaman Indonesia.
Pemkab Sragen menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung pendidikan spiritual dengan memberikan bonus tahunan kepada ribuan guru agama. Program senilai total Rp3,2 miliar ini bersinergi dengan inisiatif serupa dari Pemprov Jateng, berpotensi meningkatkan kesejahteraan para pendidik. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat peran guru agama dalam menghadapi tantangan sosial dan membentuk karakter generasi muda Sragen.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Muhammad Ali Ramdhani memastikan akan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan kasus seorang istri bersama mantannya setelah sehari menikah. Kasus tersebut menegaskan pentingnya pendidikan cinta
Ada cara-cara dasar yang bisa dilakukan orang tua untuk mengenalkan Allah SWT kepada anak. Di antaranya dengan cara 3B yakni bercerita, bermain, dan bernyanyi.
Masyarakat liberal maupun sekuler memisahkan agama dalam kehidupan sehari-hari. Agama dianggap sebagai pelengkap dan disimpan di tempat-tempat ritual saja, bukan pendorong dalam beraktivitas.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meluncurkan aplikasi layanan pendidikan agama dan keagamaan, Pusaka Super Apps, di peringatan Hari Guru Nasional Nasional (HGN) 2022, di Jakarta, Jumat (25/11/2022).
Ada 4 alasan utama pentingnya menerapkan pendidikan Islam untuk anak-anak. Salah satunya karena pengetahuan agama disebut yang paling tinggi statusnya.
Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok, KH Yusron Shidqi mengatakan bahwa perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Maka, hal yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan pola pendidikan bagi generasi z agar bisa teguh memegang agama di era disrupsi.
Karena dunia sekitarnya tidak tahu dan tidak mau menyentuh dunia mereka, tidak mau mendalami dunia mereka. Ini yang menyebabkan mereka tidak mengenal agama karena kita tidak ada yang mau mengenalkan kepada mereka,
Karena itu, pendakwah asal Riau Ustaz Abdul Somad (UAS) mendorong orang tua Muslim untuk mengenalkan huruf hijaiyah sejak dini. Menurutnya, hal tersebut untuk mencegah generasi Islam buta aksara Al-Quran.