Pertama, menurut saya adalah kita sehatkan dulu nih kondisi keuangan kita. Apapun kondisi yang akan terjadi di negara kita, kalau kitanya sudah siap dan aman secara keuangan, kita jadi jauh lebih tenang, kata Melvin.
Bagi kalangan yang sudah memiliki persiapan lebih awal khususnya dana, kabar resesi yang marak diperbincangkan belakangan ini dapat menjadi golden opportunity untuk mendapatkan properti.
Alasan ini didasari oleh properti sebagai kebutuhan pokok masyarakat, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap properti akan tetap meningkat. Peningkatan kebutuhan terhadap hunian tiap tahunnya mempengaruhi pula pertumbuhan kapasitas backlog hunian.
Hanya 18 persen calon pembeli properti yang memiliki pengetahuan cukup sebelum memutuskan membeli rumah. Padahal nilai properti bisa mencapai ratusan hingga miliaran juta rupiah dan komitmen pembayaran hingga 20 tahun.
Sayangnya kebutuhan tersebut tak diimbangi dengan kemudahan akses kepemilikan rumah, baik di negara maju atau di negara berkembang. Seperti di Indonesia, di mana rata-rata persentase kepemilikan rumah berada di angka 79,16 persen.
CEO-Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan tren WFH juga berdampak pada dunia properti. Bahkan, menurut Dara ada lima tren yang mempengaruhi hal tersebut.
Ahli Properti dan Pembiayaan Vina Yenastri membagikan enam tahap dalam proses pencarian properti. Tahap-tahapan tersebut terdiri dari define, discovery, consideration, negotiation, transaction, dan post-transaction.
Namun, saat ini investasi yang dibutuhkan untuk membeli sebidang rumah cukup bervariasi mulai dari di range harga Rp150 juta. Dibanding dengan instrumen lainnya, nominal tersebut terbilang tinggi.
Pinhome menerapkan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah secara permanen untuk memberikan ruang bagi karyawannya agar dapat bekerja secara fleksibel.
Seiring dengan itu, modus penipuan dunia properti kerap terjadi. Korbannya tak selalu datang dari kalangan awam, melainkan tak jarang juga menimpa masyarakat secara keseluruhan tanpa memandang kelas sosial.
Direktur Jersey Finance Timur Tengah, Afrika dan India, Faizal Bhana menyebutkan, pandemi menghantam keras berbagai sektor bisnis, mulai dari skala kecil hingga besar. Bahkan, hal itu juga menyebabkan pengembangan bisnis menjadi terhambat.