Yandri mengungkapkan bahwa Muhammadiyah telah menghasilkan banyak program keumatan dalam berbagai dimensi kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta pembinaan keagamaan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Haedar mendapatkan suara terbanyak, disusul Muti pada posisi kedua. Haedar dan Mu'ti sebelumnya menjabat Ketua Umum dan Sekretais PP Muhammadiyah periode 2015-2020.
Haedar Nashir terpilih kembali dan ditetapkan sebagai ketua umum periode 2022-2027. Keputusan ini berdasarkan hasil musyawarah 13 anggota PP Muhammadiyah.
Meski Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang mengandalkan kualitas dan bukan kuantitas, Haedar Nashir mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk terus memperkuat basis di akar rumput.
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mendukung Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir dan Sekretaris Umum Prof. Dr. Abdul Mu'ti kembali memimpin Muhammadiyah lima tahun ke depan.
Ketua Panitia Pusat Muktamar ke 48 Muhammadiyah, Marpuji Ali mengatakan, kehadiran Muktamar Fair dan MITE ini dalam rangka memasarkan produk dan pengembangan teknologi untuk bisa memperlihatkan sejauh mana kemampuan PTM dan Sekolah Muhammadiyah.
Terkait dengan pembangunan gedung baru Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Haedar Nashir mengungkapkan keinginan Syafii Maarif agar Muallimin-Muallimat menjadi uswah hasanah bagi model pendidikan Islam.
Menurut Haedar, Pemilu tak sekadar kontestasi politik, melainkan proses transformasi kebangsaan. Penting bagi capres dan cawapres untuk memahami secara mendalam konstitusi serta sejarah bangsa.
Panitia Muktamar ke-48 Muhammadiyah telah menyeleksi puluhan kandidat dan mengerucut jadi 39 nama melalui persidangan pada 5-6 November 2022 lalu. Selanjutnya, 39 calon pimpinan itu diseleksi lagi pada 19 November 2022.