Haedar menuturkan pers sebagai pilar keempat demokrasi, diharapkan dapat berperan membangun bangsa dan negara. Sebagai institusi negara, pers juga mesti bisa mengantarkan rakyatnya untuk bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Pesantren Muhammadiyah merupakan representasi gerakan modern dan gerakan tajdid. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan, tajdid memiliki dua pengertian yakni purifikasi dalam persoalan ibadah dan akidah serta dinamisasi dalam persoalan kehidupan duniawi.
Riadh berharap, sinergi dengan Muhammadiyah mampu membawa dunia Islam ke arah yang lebih baik. Kerja sama dinilai akan lebih mudah karena Indonesia dan Tunisia memiliki kedekatan historis.
Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan izin membuka Fakultas kedokteran sedang diajukan. Semua PTMA, kata Haedar, lahir dari kemandirian yang didukung oleh berbagai pihak baik dari internal maupun eksternal. Etos kemajuan ini menjadi spirit yang melekat di Muhammadiyah.
Haedar mengapresiasi lahirnya UMBARA ke 171. UMBARA ini merupakan universitas hasil dari gabungan Akademi Kebidanan (AKBID) Tri Dharma Husada Bandung dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bogor.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus memiliki basis nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
Seorang muslim sudah semestinya bisa meredam rasa marah dengan cara-cara Islami. Hal ini diajarkan Nabi SAW agar bisa diamalkan umat Islam di kala emosi.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) harus dilandasi dengan nilai asasi ketuhanan. Dalam Islam, tradisi ilmu merupakan implementasi wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut ancaman rezimentasi agama yang mulai terjadi di masyarakat berlawanan dengan Pancasila.
Haedar menegaskan bahwa tindakan bunuh diri untuk dan atas nama apa pun tidaklah benar dan dibenarkan oleh agama dan nilai dasar kemanusiaan. Terlebih, tindakan tersebut menimbulkan kematian dan korban dari pihak lain.
Menurut Haedar, semua kontestan politik mesti menyadari bahwa pesta demokrasi tidak hanya untuk membangun kekuasaan diri. Tapi juga membangun kekuatan yang secara bersama-sama untuk memajukan Indonesia.