Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Alissa Qatrunnada Munawaroh Wahid, menegaskan bahwa Islam menjamin keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan untuk berkiprah di sektor domestik maupun publik.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, memaknai Hari Ibu sebagai momen mengingat perjuangan perempuan Indonesia. Itu tak lepas dari sejarah Hari Ibu yang dilatarbelakangi Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928.
22 Desember menjadi peringatan Hari Ibu yang digelar sejak 63 tahun lalu melalui Dekrit Presiden No.316/1959 yang diteken Presiden Sukarno. Tetapi, Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan Mothers Day versi orang-orang Barat. Berikut perbedaannya.
Wapres menilai tantangan global yang tengah dihadapi warga dunia erat berkaitan dengan peran perempuan. Pasalnya, perempuan merupakan bagian dari warga dunia dan juga masuk ke dalam kelompok kerja.
Ada tips menjadi muslimah yang mulia dan cerdas dengan cara Islami. Jangan sampai para calon ibu ini malah mengalami degradasi moral akibat salah pergaulan.
Kartini menuliskan ide-idenya, meski dalam bentuk surat, terkait perempuan dan kultur yang dirasa mengekang kebebasan perempuan, hingga menembus media Belanda.
Dia menyebut, keberadaan organisasi muslimah seperti Majelis Taklim misalnya, membuktikan bahwa perempuan muslim Indonesia begitu aktif. Pada level yang lebih tinggi, mereka biasa bergabung pada organisasi perempuan seperti Muslimat, Aisiyah, Persistri, Muslimat Al Washliyah, Wanita Al-Irsyad, dan lain sebagainya.
Event tersebut merupakan ajang mempersiapkan diri bagi para pelaku ekraf di Bali, terutama jelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 pada 2022 mendatang.