LANGIT7.ID, Jakarta -
Belajar agama lewat internet harus berhati-hati. Umat Islam jangan sampai salah menyerap ilmu agama karena mencari rujukannya hanya dari google saja.
Di era digitalisasi ini,
umat Islam dimudahkan dalam memperoleh ilmu melalui kajian agama secara online. Namun di sisi lain, umat juga harus berhati-hati.
Ketua Lembaga Dakwah
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan, perlu kehati-hatian dalam mencari ilmu di google.
Sebab, dikhawatirkan umat justru tersesat bila tidak memiliki kemampuan menyaring sumber dari website tertentu.
Baca Juga: Gus Baha: Pendakwah Harus Buat Masyarakat Senang dalam Belajar Agama"Google hanya bisa menunjukkan website atau konten yang kita cari, tapi google tidak bisa menjelaskan maksud dari konten secara detail, dan terkadang tidak sesuai," tegas dia seperti dilansir NU Online, dikutip Kamis (1/9/2022).
Kendati demikian, lanjut muslim yang akrab disapa Gus Aab ini, di zaman modern umat boleh menggunakan internet untuk mengikuti kajian agama secara online. Namun, internet tidak boleh dijadikan sebagai guru agama.
"Untuk mendapatkan guru, harus ada tatap muka, sehingga dapat dipastikan sanadnya tersambung," kata dia
Dia mengingatkan, kaum muslimin yang mengikuti arus perkembangan digitalisasi tidak boleh hanyut terbawa arus. Apalagi kini berbagai kitab pelajaran sudah bisa diakses secara mudah melalui gadget.
"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya." (QS. at-Taubah: 122).
Dari ayat tersebut, terdapat dua kata kunci yaitu dengan mendalami agama, maka ada aktivitas dakwah yang dilakukan. Artinya, belajar dan dakwah memang perlu menyesuaikan perkembangan zaman saat ini dan zaman yang akan datang.
Secara rinci, setidaknya ada tiga sasaran dakwah. Di antaranya yaitu orang awam, dakwah dengan hikmah, hujjah, dalil, dan argumen, serta yang terakhir adalah kepada para penentang, melalui adu argumentasi dengan hikmah dan kebaikan.
"Di era digital, ketiga sasaran dakwah ini digabung menjadi satu. Pengguna aktif internet di Indonesia lebih dari 200 juta, maka pilih metode sesuai sasaran dakwah," tambahnya.
(bal)