Langit7, Yogyakarta - Beberapa waktu lalu, jagad dunia maya dihebohkan dengan seorang pemuda asal Lumajang yang menendang sesaji ke dalam jurang.
Dalam video yang tersebar pada Selasa (11/1) itu, pemuda yang diketahui seorang relawan tersebut menyebutkan pandangannya bahwa sesaji menyebabkan kemurkaan Tuhan, sehingga terjadi bencana erupsi Gunung Semeru.
Diketahui, pria tersebut telah ditangkap polisi dua hari usai video tersebut beredar di dunia maya, tepatnya pada Kamis (13/1). Pria itu ditangkap di rumahnya, Bantul, Yogyakarta.
Baca juga: Bagaimana Sikap Muslim Saat Temukan Sesajen? Ini Kata UlamaMenanggapi kejadian itu, Dosen Filsafat UGM, Sartini mengatakan, masyarakat sering mengartikan sesajen sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan, dewa, roh leluhur, atau nenek moyang, dan makhluk tak terlihat.
Tradisi sesaji juga diketahui sudah ada sebelum Islam masuk, bahkan sebelum adanya agama Hindu dan Budha.
“Sesaji biasanya dikaitkan dengan ritual yang diadakan untuk tujuan tertentu. Benda yang disiapkan untuk tiap sesaji juga berbeda. Masing-masing unsur dalam sesaji mempunyai filosofinya sendiri,” kata Sartini dalam keterangannya, dikutip, Selasa (18/1).
Baca juga: Quraish Shihab Jelaskan 3 Jenis Adat Istiadat di IndonesiaDilansir ugm.ac.id, dosen filsafat yang menggeluti budaya kearifan lokal itu menyebutkan, sesaji di Tanah Jawa sering disebut sebagai uborampe atau kelengkapan.
Sementara di Lumajang, lanjut dia, bisa jadi orang yang melakukan sesaji menganggap Semeru sebagai “makhluk” yang memiliki kekuatan dan berharap agar Semeru tidak “murka”.
“Dalam konteks sekarang, di sana termuat permohonan kepada Tuhan agar mereka diberi keselamatan. Perlu penelitian khusus untuk mengkaji fenomena ini,” ujarnya.
Dalam kepercayaan masyarakat, animisme dan dinamisme ialah sebuah paham yang meyakini adanya roh yang hidup bersama manusia di alam semesta. Di mana roh tersebut diyakini sebagai arwah orang yang sudah meninggal dunia, nenek moyang, atau leluhur.
Begitu juga dengan bagian dari alam, benda, tumbuhan, atau hewan, yang juga sering dianggap memiliki roh dan mempunyai kekuatan besar. Bahkan, hingga gunung atau laut dianggap harus dihormati keberadaannya.
"Tradisi membuat sesaji dapat menjadi bagian bentuk masih adanya kepercayaan tersebut. Manusia merasa harus berdamai dan hidup bersama makhluk yang tidak kelihatan tersebut. Melakukan sesaji adalah salah satu caranya,” jelasnya.
Baca juga: Di Tengah Keragaman Budaya, Ini Sikap Muslim Jika Temukan SesajenSementara dalam lingkungan Islam, fenomena sesaji memunculkan banyak tafsir. Intinya, kata dia, sesaji yang dipersembahkan untuk memohon sesuatu kepada selain Allah hukumnya haram atau dilarang.
Kendati demikian, beberapa pandangan masih memberi peluang bagi seseorang untuk melakukan sesaji. Menurutnya, orang yang membolehkan itu mungkin berpandangan bahwa sesaji hanya sebagai tradisi yang niat permohonannya tetap kepada Allah.
"Masalahnya adalah, tidak bisa orang memahami niat orang lain dengan hanya melihat apa yang dilakukan. Inilah yang sering menimbulkan banyak persoalan sosial,” katanya.
Dia menilai, keyakinan dan pemahaman masyarakat terhadap sesaji merupakan akumulasi pengalaman sepanjang hidup.
“Rasionalisasi simbol-simbol ritual diperlukan untuk menghadapi masyarakat yang semakin modern, rasional dan bahkan materialistik,” ujarnya.
Baca juga: Bagaimana Hukum Makan Sesajen, Ini Pendapat Buya YahyaSelain itu, kelompok beragama perlu sering bertemu untuk sekadar berdialog mengenai hal ini.
“Sering berkumpul dan berkunjung akan dapat menimbulkan empati karena ikut merasakan kehidupannya. Sehingga tidak akan mudah memaksa orang lain untuk sama dengan dirinya,” jelasnya.
(zul)