LANGIT7.ID, Jakarta - Islam memiliki sistem nilai yang membimbing umat manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Nilai-nilai Islam itu memiliki dampak sangat besar bagi setiap individu, komunitas, bahkan bangsa.
Da'i kondang Ustadz Adi Hidayat mencontohkan pengaruh Islam terhadap tatanan masyarakat di Jazirah Arab. Saat Muhammad diutus menjadi nabi dan rasul, sudah berdiri dua kerajaan besar yakni Imperium Romawi dan Kekaisaran Persia.
Romawi dan Persia memiliki peradaban sangat maju saat itu. Keduanya saling bersaing dan sering berperang untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Namun, Nabi Muhammad tidak diutus di dua peradaban tersebut.
"Tapi hebatnya, kenapa Nabi tidak diutus di tempat yang sudah maju? Nilai-nilai keislaman tidak diturunkan di Romawi maupun di Persia, tapi Allah turunkan di tempat paling terbelakang secara peradaban di muka bumi," kata UAH melalui kanal
YouTube Akhyar TV, Rabu (19/1/2022).
Ada hikmah besar di balik itu. Allah hendak menunjukkan, ketika diturunkan di tempat paling terbelakang pun, Islam mampu mengalahkan Romawi dan Persia baik secara peradaban maupun wilayah.
"Saat
Iqra turun, cuma 4 huruf, turun nilai Islam, dari sudut akhlak, yang tadinya kasar menjadi lembut, yang pemukul menjadi perangkul, yang pencela menjadi pencinta, yang rakus menjadi dermawan," kata UAH.
Ini tidak terlepas dari sistem nilai yang diajarkan dalam Islam, seperti dalam aktivitas sehari-hari. Dalam Islam, aktivitas diistilahkan dengan amal. Amal tidak bisa dipersempit hanya sebatas jam kantor saja.
"Dalam pandangan Islam, semua aktivitas yang dikerjakan dari bangun tidur sampai tidur kembali adalah amal (kerja)," kata UAH.
Al-Qur'an lalu membagi pekerjaan menjadi dua bagian. Pertama, sebuah pekerjaan yang dibenarkan oleh syariat dan disukai oleh Allah Ta'ala. Jenis amal ini disebut shalih. Dari sini muncul istilah amal shalih.
Kedua, ada pekerjaan yang tidak dibenarkan oleh syariat dan tidak disukai oleh Allah. Istilah Qur'an disebut su'u dan jamaknya disebut sai'at. ini diistilahkan sebagai amal salah.
Dua konsep amal dalam perspektif Islam ini penting dipahami. Sebab, ada orang yang memiliki etos kerja tinggi ketika melakukan kejahatan. Itu harus diluruskan agar etos kerja meningkat saat mengerjakan amal shaleh.
"Orang yang mengerjakan aktivitas shalih, maka dia mendapatkan jaminan dari Allah. Dia akan hidup nyaman saat di dunia, meninggal dan di alam kubur juga nyaman, di akhirat mendapatkan surga," kata UAH.
Sistem nilai inilah yang diterapkan para sahabat sehingga mampu membangun peradaban Islam. Sejarah intelektual dunia pasti bermuara pada peradaban Islam.
Sistem ini tentu harus diterapkan pada setiap pribadi muslim saat ini. Motivasi utama dalam beraktivitas harus sesuai dengan amal shalih agar mendapat keberkahan dari Allah. Amal shalih itu yang akan mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sistem nilai ini pula yang akan membawa seorang muslim menjadi umat terbaik, sebagaimana disinggung dalam Surah Ali-Imran ayat 110:
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia."
(jqf)