LANGIT7.ID, Kairo - Ulama Jawa maupun Nusantara memiliki banyak karya kitab dengan kualitas internasional pada masa lalu. Karya-karya mereka yang dicetak pada abad ke-19 bisa ditemukan di gudang arsip perpustakaan-perpustakaan di Mesir.
Salah satunya sebuah maktabah yang dibangun pada 1859 oleh Syekh Ahmad bin Umar Al-Halabi dengan nama asli Maktabah al-Maymaniah. Maktabah itu kemudian diteruskan oleh anak-anaknya hingga sekarang memiliki nama resmi
Syirkah Maktabah wa Mathba'ah al Babi Al-Halaby wa Awladuhu.
Miftah Wibowo, Direktur Pojok Peradaban sekaligus mahasiswa jurusan sejarah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir mengatakan, maktabah bagi masyarakat Mesir itu ibarat nadi. Dimulai dari era Dinasti Fatimiyah yang menjadikan pusat pemerintahan-nya di Kairo lama pada abad ke-10 M.
Tak hanya menjadikan Al-Azhar sebagai salah satu cikal bakal institusi pendidikan Islam di dunia, kegiatan pelestarian karya-karya ulama juga sangat ditunjang di masa tersebut. Tak heran semangat itulah yang ditularkan kepada generasi-generasi setelahnya, meskipun seiring berkembangna zaman, peran perpustakaan di Kairo semakin luas bahkan menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.
"Tapi fungsi utama maktabah dalam menyediakan dan menyimpan referensi dan manuskrip berharga karya ulama masih menjadi ciri khasnya. Hal tersebut menjadi surga bagi para peneliti dan penuntut ilmu," kata Miftah melalui kanal YouTube Lukman Hakim, saat menjajal kitab-kitab ulama Jawa dan Nusantara di Mesir.
Miftah bersama Pojok Peradaban memiliki misi mengumpulkan karya-karya ulama Jawa dan Nusantara. Karya-karya itu akan diresensi, dikomentari, lalu dicetak ulang agar bisa dibaca kembali generasi saat dan generasi mendatang.
Salah satu tujuan misi itu adalah Maktabah al-Maymaniah. Ia berkunjung ke tempat itu untuk mencari kitab-kitab ulama Jawa dan Nusantara. Ciri khas dari kitab-kitab itu adalah menggunakan aksara Pegon Sunda, Jawa, Melayu, dan Aceh.
Baca Juga: Awal Mula Penggunaan Pegon Jawa-Sunda di Nusantara
"Penyimpanan kitab-kitab itu berada di sebuah gedung tua. Di dalamnya terdapat harta karung kitab-kitab ulama Jawa dan Nusantara. Gudang ini mempunya dua lantai, dan menyimpan kitab-kitab dari abad ke-19," kata Miftah.
Namun, mencari buku di gudang itu tak semudah yang dibayangkan. Dua lantai sudah berdebu dipenuhi ratusan manuskrip buku. Beruntung, Miftah menemukan katalog berbahasa Pego Jawi yang memudahkan pencarian.
Di katalog tersebut terdapat 120-an kitab ulama Jawa dan Nusantara. Namun, ia hanya menemukan 53 buku. Kitab yang paling dicetak di situ adalah Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Abdulloh Dawud Al-Fathoni, Syaikh Muhammad Mohktar Bin Raden Natanagara (Bogor). Kitab yang mereka tulis mulai mulai dari akidah, fikih, tasawuf, ilmu falak, ilmu-ilmu matematika, dan lain sebagainya.
"Ini harta karun kita yang perlu kita gali lagi. jangan sampai ini tertimbun selamanya di sini,' kata Miftah.
Dalam pencarian, dia menemukan kitab Fikih Mazhab Syafi'i karya ulama Sumatera yakni Kitab Shiratal Mustaqim karya Syaikh Nuruddin Ar Raniri. Kitab itu masih asli, karena masih ada tanda tangan dan cap dari pengarang.
Hal menarik dari Ulama Jawa dan Nusantara, terdapat kitab yang tidak menyertakan nama ulama karena tawadhu. Mereka tak ingin dikenal, hanya ingin ilmunya bermanfaat. Seperti sebuah buku akidah yang ditemukan tumpukan buku, hanya diberitahukan itu berasal dari ulama Fathani.
Ada juga Fathul Majid yang dikarang syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Ada pula Syekh Mustafa asal Garut, dia adalah ulama besar di Mekkah, yang menulis kitab Nahwu.
"Pertanyaan besar, kenapa di era 80-an kenapa banyak karya ulama Nusantara dicetak di sini, karena hubungan antara Mesir dan Indonesia itu erat, dan juga ditambah banyak ulama Nusantara yang belajar di Indonesia," kata Miftah.
(jqf)