LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam mulai terdorong menghidupkan kembali fungsi masjid seperti di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, yakni sebagai pusat peradaban. Pemerintah, organisasi masyarakat, hingga dunia perbankan, pun mulai melirik masjid sebagai fundamental pengembangan ekonomi syariah.
Sebagai pranata penting dalam kehidupan masyarakat muslim, masjid tidak cukup hanya difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan ibadah semata. Fungsi masjid juga bisa diarahkan pada ragam kegiatan sosial yang lebih luas lagi, misalnya ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Cendekiawan Muslim, Nurcholis Madjid telah mengudar tentang masjid sebagai basis kehidupan sosial masyarakat muslim. Supaya kegiatan melakukan shalat itu benar-benar merupakan “penegakan shalat” (iqâm al-shalâh,) dan tidak semata-mata formalitas lahiriah.
Baca Juga: Kemenag Imbau Khatib Jumat Sebarkan Ceramah Moderasi BeragamaCak Nur memandang perlu ditanamkan kepada jamaah bahwa makna shalat itu sendiri sebagai peristiwa menghadap Allah, yang memiliki nilai keruhanian pribadi yang amat tinggi. Pada sisi lain, shalat adalah sarana pendidikan untuk menanamkan kepedulian sosial yang mendalam sebagaimana diperingatkan dalam Al-Qur'an, surat Al-Maun.
"Maka dengan tujuan amal bakti maupun pendidikan, masjid hendaknya mempunyai kegiatan sosial yang memperlihatkan rasa kemanusiaan yang tinggi, sebagai wujud al-akhlaq al-karîmah," dikutip Ensiklopedia Nurcholis Madjid.
Cak Nur lalu mengurai ragam agenda yang dapat mewujudkan masjid menjadi pusat peradaban sebagaimana yang senantiasa dicita-citakan umat Islam. Terutama dalam kaitannya dengan antusiasme anak-anak muda dengan menjadikan masjid sebagai sentra ilmu pengetahuan yang beragam.
Pertama, kepada mereka harus mulai diusahakan dengan sungguh-sungguh pengembangan minat membaca yang serius, dengan mengenal perpustakaan yang ada di masjid. Karenanya, penting pula bagi pengurus masjid untuk menyediakan fasilitas membaca yang memadai dengan mengadaka perpustakaan.
Baca Juga: Tak Peduli Cuaca Dingin, Anak-anak Antusias Main Salju di Halaman Masjid Al-AqsaKemudian, Nurcholish Madjid memandang pentingnya memperkenalkan seni kaligrafi kepada golongan muda mengingat seni Islam belum begitu mapan di Indonessia. Kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an yang tertera pada dinding-dinding masjid hendaknya tidak hanya dijadikan hiasan semata.
Ketiga, karena bangunan masjid merupakan pranata Islam yang terpenting, maka kepada anak muda hendaknya mulai ditumbuhkan apresiasi dan minat kepada arsitektur masjid yang bermacam-macam. Sebab wujud seni Islam yang terpenting sesungguhnya ialah arsitektur seperti Alhambra, Kubah Al Shakhrah, Taj Mahal, Fateh Puri, dan lain-lain, yang sampai sekarang tetap merupakan bangunan-bangunan paling indah di muka bumi.
Keempat, sudah tentu kepada mereka juga harus diperkenalkan bentuk-bentuk kegiatan masjid yang bersifat sosial sebagai perwujudan budi pekerti luhur Islam, amal saleh, dan cita-cita keadilan sosial, sebagai wujud salah satu misi suci umat Islam yang utama.
Baca Juga: Subhanallah, Kompleks Masjid Al-Aqsa Diselimuti Hujan Salju(zhd)