LANGIT7.ID - , Jakarta - Operasi transplantasi jantung babi ke manusia berhasil dilakukan pertama kali di Amerika Serikat. Adalah Dr. Muhammad Mohiuddin sosok di balik operasi yang berhasil melakukan transplantasi jantung babi ke tubuh David Bennet, pada 7 Januari lalu.
Dokter Muslim keturunan Pakistan ini dianggap melakukan terobosan medis meski memicu kontroversi dari metode yang dilakukannya tersebut. Lalu, siapa sebenarnya Mohiuddin?
Mohiuddin mengawali perjalanan karirnya setelah lulus dari Dow Medical College di Pakistan. Ia bercita-cita menjadi seorang ahli bedah kardio-toraks.
Baca juga: Kontroversi Cangkok Jantung Babi ke Manusia, Ini Pandangan UlamaPada tahun 1992, ia datang ke AS dan mengikuti program fellowship di University of Pennsylvania. Di sana salah seorang mentor menasihatinya untuk meneliti penelitian transplantasi.
"Dia bertanya kepada saya, 'Apakah Anda tertarik pada sesuatu seperti itu? Jika berhasil, itu akan secara eksponensial meningkatkan peluang Anda untuk membantu lebih banyak orang daripada yang akan Anda lakukan sepanjang hidup Anda,'” kata Mohiuddin seperti dilansir dari Vice, Sabtu (5/2/2022).
Sisanya adalah sejarah. Dokter segera beralih ke bidang
xenotransplantasi atau transplantasi antarspesies.
“Sering kali saya berpikir bahwa saya tidak ingin melakukan ini. Ada begitu banyak masalah dalam
xenotransplantasi sehingga, di benak saya, saya selalu berpikir apakah kami akan dapat membawanya ke klinik.”
Butuh puluhan tahun kekecewaan untuk mencapai tingkat keberhasilan transplantasi ini. Bagi Mohiuddin mewujudkannya bukanlah hal yang muda.
Apalagi Mohiuddin, seorang Muslim yang taat, bergulat dengan masalah agama selama penelitiannya selama 30 tahun. Konsumsi daging babi dianggap haram atau dilarang dalam Islam, dan di beberapa kalangan Muslim Pakistan asosiasi dengan hewan sangat tidak disukai.
“Saya mendapat reaksi keras dari keluarga saya. 'Kenapa kamu menggunakan hewan ini?' Ayah saya selalu bertanya kepada saya, 'Bisakah kamu setidaknya mencoba menggunakan hewan lain?'” kata Mohiuddin.
Baca juga: Meniru Nabi Ibrahim Sebagai Sosok Ayah dan Pendidik HebatMeski begitu, Mohiuddin dan tim telah memeriksa organ hewan alternatif selama penelitiannya. Namun, genetik hati babi terbukti ideal untuk transplantasi ke manusia.
"Kami telah memanipulasi gen babi ini sedemikian rupa sehingga menjadi sedikit lebih dekat dengan manusia dalam hal imunologi. Kami tidak mengubahnya menjadi manusia, tetapi kami mengubah gen sedemikian rupa sehingga penolakan organ tertunda." katanya.
Mohiuddin menambahkan, "Ini seperti transplantasi dari manusia ke manusia, di mana Anda masih harus menggunakan obat-obatan tetapi Anda tahu Anda bisa mengendalikannya. Jika kami tidak melakukannya, penolakan terjadi dalam beberapa menit dan organ itu tidak berguna."
Penggunaan organ babi juga mengurangi kontroversi di luar dunia Muslim. “Karena saya tinggal di negara di mana daging babi dikonsumsi secara teratur, itu bukan masalah etika di dunia Barat. Lebih mudah,” kata Mohiuddin.
Baca juga: Belajar Jadi Guru Ideal kepada Sosok Nabi Muhammad SAWNamun kecemasan keluarganya dan keyakinannya sendiri membuat Mohiuddin mempertanyakan penggunaan babi.
“Saya mencoba mengikuti semua ajaran Islam, sehingga kekhawatiran itu selalu ada di benak saya. Jadi, saya mencoba mencari alasan agar saya terus menggunakan hewan ini,” kata Mohiuddin.
Untuk menghilangkan keraguannya, Mohiuddin berkonsultasi dengan sejumlah ulama dari seluruh dunia hingga akhirnya mendapat jawaban.
"Konsensus terakhir adalah bahwa tidak ada yang lebih besar di mata Tuhan daripada menyelamatkan nyawa manusia," katanya.
(est)