LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Pakistan menyatakan kesiapannya untuk
memfasilitasi perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, guna mengakhiri perang yang sedang berlangsung. Tentu hal ini mengejutkan banyak pihak, kenapa Pakistan menjadi mediator sementara tengah berkonflik dengan
Afghanistan dan
India?
Klaim Pakistan sebagai mediator tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, pekan ini. "Pakistan sangat senang bahwa Iran maupun AS telah menyatakan kepercayaan mereka kepada kami untuk memfasilitasi dialog ini," ujarnya dalam sebuah tayangan televisi, Minggu (29/3).
Dar menambahkan, Pakistan merasa terhormat untuk menjamu dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna bagi kedua belah pihak guna mencapai penyelesaian komprehensif atas konflik yang sedang berlangsung.
Reaksi atas pernyataan tersebut yaitu muncul pertanyaan tentang bagaimana sebuah negara dalam hal ini Pakistan, yang terlibat konflik dengan dua negara tetangganya yaitu Afghanistan dan India, memposisikan dirinya sebagai pembawa perdamaian.
Saat ini negara tersebut sedang membombardir Afghanistan dan ketegangan dengan India menyebabkan kekhawatiran akan eskalasi nuklir.
Baca juga: Makin Garang, Kini Spanyol Tutup Wilayah Udara Bagi Pesawat AS yang Terkait Perang IranPakistan sejauh ini telah berjalan di atas tali tipis antara Iran dan AS, menyampaikan pesan antara kedua pihak, menerima kunjungan menteri luar negeri dari negara-negara Muslim lain yang prihatin, dan melakukan komunikasi diplomatik. Namun, tindakan penyeimbangan ini bukanlah tanpa risiko.
Di Balik Pakistan Mediasi AS-IranDiketahui, Kepala angkatan bersenjata Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir disukai oleh Presiden AS
Donald Trump. Pemimpin AS itu sering menyebutnya sebagai Marsekal Lapangan "favoritnya", dan sebelumnya telah berbicara tentang bagaimana Munir mengenal Iran "lebih baik daripada kebanyakan orang". Melansir BBC, Selasa (31/3/2026).
Hal tersebut yang mungkin memenangkan hati Trump hingga akhirnya menyetujui Pakistan menjadi mediator AS-Iran.
Sementara dari sisi Iran, antara Iran dan Pakistan bukan hanya sekadar negara tetangga yang berbatasan sepanjang sekira 900 km (559 mil), tetapi juga memiliki hubungan "persaudaraan" dengan ikatan budaya dan agama yang mendalam.
Jika melihat dari sisi Pakistan sendiri, terlihat bahwa Pakistan sangat bergantung pada impor minyak dan sebagian besar masuk melalui Selat Hormuz.
"Pakistan, menurut saya, lebih dari hampir semua negara lain di luar Timur Tengah memiliki banyak kepentingan dalam hal ini," kata Michael Kugelman, seorang peneliti senior untuk Asia Selatan di Atlantic Council, kepada BBC.
"Pakistan memiliki kepentingan yang sangat mendesak untuk melakukan apa pun yang dapat dilakukannya untuk berkontribusi pada upaya de-eskalasi."
Baca juga: Spanyol dan Prancis Kompak Menolak Dukung AS Pada Perang Melawan IranPemerintah Pakistan menaikkan harga bensin dan solar sekira 20% pada awal Maret, dan telah memperkenalkan langkah-langkah termasuk kebijakan bekerja di kantor empat hari bagi pegawai pemerintah untuk mencoba menghemat bahan bakar.
"Jika perang berlanjut, tekanan ekonomi di Pakistan akan meningkat secara drastis," kata Farhan Siddiqi, Profesor Ilmu Politik di Institut Administrasi Bisnis, Karachi.
Kekhawatiran Akan Dampak EskalasiPada September tahun lalu, Pakistan menandatangani pakta pertahanan dengan Arab Saudi, menyetujui bahwa "setiap agresi terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap kedua negara".
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan Pakistan, jika Arab Saudi bergabung dalam perang dan menggunakan pakta tersebut.
"Masalah bagi kami adalah jika kami diminta untuk bergabung dalam perang di pihak Saudi, seluruh perbatasan barat kami akan menjadi sangat tidak aman," kata Siddiqi.
Pakistan sudah terlibat dalam "perang habis-habisan" dengan Afghanistan; mereka menuduh Taliban Afghanistan melindungi kelompok teroris di dalam perbatasannya, yang dibantah oleh pemerintah Taliban.
Siddiqi juga menyampaikan akan ada "biaya reputasi domestik" apabila Pakistan terseret ke dalam perang.
Baca juga: AS Kirim Pesan ke Iran Lewat Mediator, Trump Isyaratkan Terbuka pada Kesepakatan: Pertanda Amerika Menyerah Halus?Mengambil contoh beberapa waktu lalu, usai Pemimpin Tertinggi Iran tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel, demonstran pro-Iran turun ke jalan di seluruh Pakistan, dan beberapa tewas termasuk mereka yang mencoba menyerbu konsulat AS di Karachi.
"Sentimen publik di Pakistan sebagian besar pro-Iran," kata Maleeha Lodhi, mantan duta besar Pakistan untuk AS, Inggris, dan PBB.
"Saya yakin para pembuat keputusan Pakistan sangat peka terhadap hal itu."
Keuntungan Bagi PakistanSeorang peneliti senior untuk Asia Selatan di Atlantic Council, Michael Kugelman mengatakan, Pakistan sangat sensitif terhadap kritik bahwa mereka tidak memiliki pengaruh di panggung global.
Namun ia yakin hal ini bukan menjadi motivasi utama Pakistan, meski mungkin ada hubungannya.
"Ini adalah diplomasi berisiko tinggi, tidak diragukan lagi," tambah Maleeha Lodhi. "Ini berisiko tinggi dan imbalannya juga tinggi. Jika berhasil, tentu saja, itu akan melambungkan Pakistan ke puncak permainan diplomasi global." (*/lsi/bbc/independent)
(lsi)