LANGIT7.ID, Jakarta - Kota Tarim merupakan kota yang berada jauh di sisi timur Saiun, dengan jarak 35 km. Kota ini dikelilingi bukit dan perkebunan kurma. Kota tarim atau Trim termasuk kota lama.
Nama Tarim, menurut satu riwayat, diambil dari nama seorang raja bernama Tarim bin Hadramaut. Dia juga disebut Tarim al-Ghanna atau kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai.
Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan bercerita tentang keshalihan dan ketinggian ilmu para salaf shalih yang ada di kota tersebut. Dia menyebut Tarim sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW. Penduduknya pun telah memeluk Islam pada zaman beliau.
Dalam Kitab Shahih Bukhari disebut tentang penduduk Hadramaut yang datang kepada baginda nabi. Rasulullah SAW juga beberapa kali menyebut kota tersebut. Salah satu penyebab keberkahan kota ini berkat doa dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Saat banyak umat Islam di pelosok murtad selepas Rasulullah wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirim pasukan untuk memerangi mereka. Pasukan paling terkenal berangkat ke Yamamah memerangi Musailamah al-Kadzab. Ada pula pasukan yang ke Hadramaut.
Ketika masuk ke Hadramaut, pasukan Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk dari Bukit Khaile. Namun, saat memasuki kota, mereka tidak mendapati seorang pun penduduk Tarim yang murtad. Mereka justru membantu para sahabat berjihad melawan orang-orang murtad.
"Banyak sahabat nabi yang dimakamkan di Hadramaut. Di saba ada makam Said bin Abbad bin Bisyr al-Anshari. Di Zambal, ada sebuah lahan yang dipenuhi makam tua, makam para sahabat ahlu badar," kata Habib Jindan saat berbincang dengan Habib Ja'far, melalui kanal
Jeda Nulis, dikutip Kamis (10/2/2022).
Saat Abu Bakar mengetahui keadaan Tarim, ia mengirim surat balasan dan mendoakan mereka. Ada tiga doa yang dikhususkan untuk Tarim, yakni airnya berkah, makmur sampai hari kiamat, dan agar Allah tumbuhkan para wali seperti menumbuhkan pohon di tepi sungai saat musim banjir.
"Doa Abu Bakar ini bisa disaksikan sekarang. Air melimpah, kota bertahan sampai sekarang, dan banyak ulama berasal dari Hadramaut. Islam datang ke Indonesia berasal dari wali-wali yang datang dari Hadramaut. Siapa yang tak kenal Walisongo, keturunan Imam Abdul Malik bin Alwi al-Faghi," ucap Habib Jindan.
Keberkahan Tarim juga bisa disaksikan dari catatan Al-Maghribi, sebuah manuskrip yang sudah berusia 700 tahun lebih. Al-Maghribi tertarik ke Tarim karena cerita keistimewaan Tarim dari sang ayah. Ketika tengah berhaji, ia bertemu dengan ulama asal Tarim dan ikut berziarah ke kota tersebut.
"Dia mendeskripsikan bahwa penghuni kota Tarim itu seperti malaikat. Al-Maghrabi mengatakan, ketika sampai di Kota Tarim, sungguh penghuninya tidak seperti manusia, mereka lebih mirip malaikat," ucap Habib Jindan.
Dalam satu waktu, ia melewati satu gang di Tarim. Ia menghitung masyarakat yang membaca Surah Yasin. Orang yang baru memulai saja berjumlah 40 orang, tentu yang sudah di pertengahan surah jauh lebih banyak lagi.
Suatu ketika usai shalat isya, Al-Maghribi sengaja duduk di pojok masjid. Ia menyaksikan penduduk Tarim silih berganti berdatangan memakmurkan masjid, hingga datang utusan Syekh Sayyid Muhammad mengundang makan malam di rumah sang syekh.
"Al-Maghribi menjawab, 'Saya akan pulang setelah orang-orang ini pulang'. 'Ya Al-Maghribi,sampai subuh pun mereka tidak akan selesai. Mereka ini hanya orang awam, tapi datang ke rumah Syekh Sayyid Muhammad, anda akan melihat orang-orang khusus'. Orang awam saja, ibadahnya luar biasa," ucap Habib Jindan.
Imam Yafi'i Abdullah bin As'ad Al-Yafi'i menulis satu kitab yang menyebut wali-wali di seluruh dunia. Namun, ia tak mencantumkan wali dari Hadramaut, padahal Yafi'i itu provinsi bertetangga dengan Hadramaut.
"Dia ditanya kenapa begitu, 'kalau saya sebut (jumlah) wali di Hadramaut, gak bakal selesai ini kitab'. saking banyaknya," cucap Habib Jindan.
Imam Yafi'i menceritakan, ketika berziarah ke Tarim, dia memberi salam dan menyapa warga di sana. Ia mendapat sambutan luar biasa. Dia menemukan wali-wali besar yang tidak ada di Barat dan Timur.
"Intinya, kalau kita mau membicarakan akhlak penduduk Tarim, kita kehabisan kata-kata. Para ulama mengatakan, semangkok ilmu di Tarim lebih baik dari lautan ilmu di tempat lain. Kenapa? sebab ilmu di Tarim tidak diajarkan satu ilmu kecuali diiringi dengan amalan. hingga di sana, orang awam yang tidak shalat jamaah, hampir-hampir tidak ada," ucap Habib Jindan.
(jqf)