LANGIT7.ID, Jakarta - Isra Mi’raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab yang pada tahun ini jatuh pada Senin, 28 Februari 2022. Isra Mi’raj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu naik ke Sidratul Muntaha.
Perjalanan Nabi Muhammad dalam Isra Mi’raj berlangsung hanya dalam satu malam. Saat Rasulullah menceritakan pengalamannya pada tahun ke-10 kenabian atau 621 Masehi, banyak masyarakat Makkah tidak mempercayainya.
Kisah Isra Mi’raj tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 1. Dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatan maupun kepulangan Nabi Muhammad kembali ke tempat tinggalnya di Makkah.
Baca Juga: Makna Isra Miraj bagi Menag: Jangan Saling MenjatuhkanDilansir Tafsir Kementerian Agama, diterangkan bahwa Isra Nabi Muhammad dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa yang berada di Baitul Maqdis, Palestina. Disebut Masjidil Aqsa yang berarti "terjauh", karena letaknya jauh dari kota Mekah.
Jarak Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ialah sekitar 1.239 kilometer, Muhammad Sholikhin dalam “Berlabuh di Sidratul Muntaha” (Quanta Press: 2013) menuliskan jarak Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha 1.233 kilometer. Pada zaman itu, waktu tempuh dengan tunggangan tercepat adalah sekitar sebulan, tapi Rasulullah menyelesaikannya dalam satu malam.
Rasulullah dalam hadits mengatakan bahwa kendaraan yang dipakai dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha adalah Buraq, sejenis binatang berwarna putih lebih besar dari keledai, dan lebih kecil dari bigal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Guru Besar Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Agus Purwanto mengaatakan, sejauh ini belum ada teori sains yang secara memuaskan dapat mengurai fenomena Isra Mi’raj, termasuk teori Relativitas Khusus Einstein.
Seandainya kecepatan Buraq setara dengan kecepatan cahaya pun, perjalanan Isra Mi’raj tak bisa selesai dalam satu malam. Agus menjelaskan, bila dikalikan dengan kecepatan cahaya 300.000 km/detik dalam waktu 8 jam, akan dihasilkan jarak tempuh sejauh 4.320.000.000 kilometer dari bumi.
Dilansir laman resmi Muhammadiyah, Agus mengatakan, dengan perhitungan terebut, perjalanan Mi’raj baru mencapai planet Neptunus, planet terluar dari sistem tata surya, membutuhkan sekitar 4.4 tahun kecepatan cahaya hanya untuk sampai menuju alpha centauri, sistem tata surya terdekat bumi.
Belum lagi dengan fakta bahwa tidak ada materi yang bermassa yang bisa secepat cahaya. Cahaya dapat bergerak cepat karena pada dasarnya ia adalah gelombang elektromagnetik.
Baca Juga: Hikmah Rahmani: Miraj-kan Dirimu“Karena ini bicara sains, akan terjadi pembengkakan massa yang besar sekali, dengan kata lain kalau Nabi secepat kecepatan cahaya tubuhnya akan meledak,” kata Agus.
“Karenanya hentikan penjelasan peristiwa Isra’ Mi’raj ini dengan pendekatan Relativitas Khusus Einstein,” ujar Agus dalam kajian yang diselenggarakan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta belum lama ini.
Menurut sains, percepatan maksimal yang dapat diterima tubuh manusia adalah 9 g (G adalah akselerasi objek relatif terhadap gravitasi) untuk arah vertikal ke atas (maksimal g force pada jet tempur), 3 g ke bawah, dan 45 g untuk percepatan horizontal. Semakin tinggi percepatan yang diterima akan membuat manusia pingsan dan merusak struktur tubuh.
Kemudian, dalam perjalanan ke langit setidaknya ada lima lapisan atmosfer yang harus dilalui, yakni troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, dan eksosfer. Pesawat terbang menjelajah pada lapisan stratosfer (50 kilometer dari permukaan laut).
Pada lapisan itu, meski pesawat sudah dilengkapi mekanisme penyesuaian suhu dan tekanan, tubuh manusia pun masih merasakan dampaknya perbedaan tekanan udara seperti sakit telinga. Semakin tinggi pesawat melakukan cruising, maka akan semakin sakit telinga manusia.
Baca Juga: Kisah Mi’raj Rasulullah, Berjumpa Adam hingga Perintah ShalatBelum lagi risiko hancurnya tubuh akibat bergesekan dengan udara dan partikel halus lainnya seperti butiran gas, debu, kotoran. Dengan tingkat kecepatan yang tinggi dan tanpa pelindung, kulit manusia akan langsung bergesekan dengan partikel-partikel tersebut.
Gesekan ini menghasilkan panas yang bisa membakar dan mengiris kulit. Sayangnya, kulit manusia tidak dirancang sekuat dan setahan itu terhadap gesekan dan panas.
(zhd)