LANGIT7.ID, Jakarta - Sejak keruntuhan Uni Soviet, lembaga pendidikan Islam kembali muncul sebagai respons meningkatkan permintaan masyarakat muslim Rusia kala itu. Sama halnya sebelum era Uni Soviet, sistem pendidikan Islam saat ini memiliki beberapa tingkatan.
Tingkat dasar berasal dari keluarga muslim dan organisasi muslim di masjid-masjid. Ini bertujuan untuk membangun akidah dan akhlak anak-anak muslim. Tingkatan kedua, tingkat yang paling formatif, diwakili oleh madrasah dan dikaitkan dengan perolehan keterampilan belajar dan pengembangan keterampilan praktis.
Tingkat ketiga terdiri dari lembaga pendidikan tinggi Islam dan memberikan kesempatan untuk pengembangan profesional. Mengenai jumlah murid dan mahasiswa, sangat sulit untuk menjaga statistik, karena materi pelajaran tidak terdaftar. Jumlah siswa, misalnya, di madrasah Dagestan rata-rata antara empat dan lima ribu setahun, lalu tiga ribu di universitas-universitas Islam.
Mengutip laman
riddle, peningkatan pendidikan Islam juga terkait dengan tantangan tertentu bagi sistem pendidikan Islam, yaitu para sarjana muslim kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidang studi mereka.
Baca juga: Islam Pernah Dipertimbangkan Jadi Agama Resmi RusiaAnak muda muslim memilih pendidikan Islam sebagai lintasan karir keagamaan dengan prospek yang relatif jelas dalam mencari pekerjaan di masa depan. Namun, pada kenyataannya, lapangan pekerjaan bagi lulusan seringkali terbatas pada bidang keagamaan atau akademik.
"Akibatnya, mereka harus mencari opsi alternatif, seperti bekerja di Lembaga Pemasyarakatan Federal Rusia untuk mencegah radikalisasi narapidana," tulis Alissa Shishkina, peneliti senior dan pakar ekonomi di Rusia, di laman
riddle.
Tantangan lain, metode mengajar di lembaga pendidikan Islam dianggap tidak menarik untuk kehidupan sosial masyarakat Rusia secara umum. Itu karena siswa hanya difokuskan pada hafalan Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama, tanpa diikuti pengembangan keterampilan.
Hal itu menyebabkan kurangnya integrasi pendidikan Islam ke dalam ruang pendidikan umum dan kebutuhan pasar tenaga kerja di Rusia. Ini mengacu pada regulasi negara yang tidak mengakomodasi sistem pendidikan tersebut dan tidak lapangan pekerjaan yang memfasilitasi lulusan pendidikan Islam.
Pemerintah menginginkan standarisasi kurikulum di semua lembaga pendidikan Islam, termasuk pendidikan tinggi, dan perluasan cakupan mata pelajaran umum. Namun, prospek mendapatkan pendidikan universitas yang 'berstandar', sekalipun mengandung komponen Islam, tidak akan sejalan dengan strategi membangun identitas diri umat Islam.
Selain itu, umat Islam tidak dapat berbicara tentang wacana pemerataan pendidikan Islam di wilayah Rusia. Ide membangun sistem tunggal yang disatukan oleh standar pendidikan umum terlihat artifisial dan terputus dari tuntutan nyata akan pendidikan di pihak komunitas Islam.
Di sisi lain, ada tradisi pendidikan Islam yang sudah mapan dan berabad-abad lamanya di Timur Tengah seperti Universitas Al-Azhar di Kairo atau Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh. Kurikulum mereka telah diuji selama beberapa dekade, dan kredibilitas mereka di kalangan umat Islam sangat tinggi.
Baca juga: Kelebihan Kuliah di Universitas Islam, Kaya Akan SejarahItu menjadi salah satu tujuan pelajar muslim, sebab, universitas itu dikenal memiliki ragam fakultas yang mengintegrasikan antara pendidikan agama dan umum. Bahkan sudah ada fakultas kedokteran dan lain sebagainya. Itu memungkinkan pelajar musim Rusia mendapat pekerjaan layak.
Namun, Rusia waspada terhadap ajaran Islam yang didapat pelajar muslim dari luar negeri. Pemerintah Rusia menganggap, mengundang guru asing dan program pertukaran pelajar dapat dianggap sebagai tempat berkembang biaknya potensi radikalisasi kaum muda.
Jadi, dalam konteks kemungkinan reformasi sistem pendidikan Islam di Rusia, dua dimensi dapat dibedakan. Pertama, jangka pendek, melibatkan modernisasi format pengajaran itu sendiri dengan menambahkan mata pelajaran umum.
Baca juga: Masjid Biru Rusia: Gudang Senjata Perang Dunia II yang Dipugar SukarnoKedua, dalam jangka panjang, ini bisa menjadi dasar bagi 'tradisi Islam Rusia' dan mazhab teologinya sendiri. Dalam prospek jangka panjang, pendidikan Islam bisa mengadopsi sistem pendidikan Islam di Timur Tengah, seperti Universitas Al-Azhar, Mesir.
Hal ini dapat membantu mempertahankan prestise tinggi lembaga pendidikan di kalangan anak muda dan bisa menyelesaikan masalah lapangan pekerjaan. Itu karena lulusan memiliki kesempatan kerja yang sama dengan mahasiswa lain.
(jqf)