LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi dan endemi merupakan tingkatan yang terjadi dalam penyebaran suatu penyakit. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan, pandemi adalah kondisi di mana suatu penyakit menyebar ke beberapa negara dan mempengaruhi banyak orang.
Sementara endemi mengacu pada kehadiran konstan dan/atau prevalensi penyakit atau agen infeksi dalam suatu populasi di suatu wilayah geografis.
Definisi serupa disampaikan Epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani. Ia mengatakan, pandemi merupakan kasus wabah global, sedangkan endemi menjadi kasus wabah lokal dan sifatnya sporadis, dengan jumlah kasus berbeda-beda.
“Misalkan, mungkin saja suatu waktu ada wilayah tanpa kasus tetapi ada yang masih ada kasus tentunya jika endemi jumlahnya terkendali,” kata Laura kepada LANGIT7.ID, Kamis (10/3/2022).
Baca juga: Kominfo Bahas Isu Digital Guna Wujudkan Pemulihan PascapandemiStatus pandemi Covid-19 yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) akan diakhiri pula oleh WHO. “Perubahan status pandemi ke endemi tentu menunggu kebijakan dari WHO,” kata Laura.
Ia menjelaskan, penentuan perubahan pandemi ke epidemi tidak hanya melihat situasi epidemiologi secara lokal, misal hanya di Indonesia. Akan tetapi, pencabutan status pandemi dilakukan dari analisis persebaran Covid-19 saat ini secara global.
Jika kasus Covid-19 melandai secara konsisten di banyak negara atau bahkan di seluruh negara, maka kasus pandemi bisa dicabut. Namun, Laura menegaskan, kasus Covid-19 tidak serta merta hilang meski berubah status dari pandemi ke endemi.
“Tentunya kasus Covid-19 ini tidak langsung hilang, artinya masih ada kasus walaupun sedikit, ini yang kemudian disebut sebagai endemi,” ucap Laura.
Baca juga: Malaysia Umumkan Masuk Fase Endemik Mulai 1 April 2022Pemimpin Teknis untuk Program Keadaan Darurat Kesehatan WHO, Maria van Kerkhove, pernah mengatakan pada Desember 2021 lalu, masyarakat dunia masih berada di tengah pandemi, dan tidak bisa masuk ke situasi endemi jika masih ada bagian dunia yang berada dalam situasi pandemi.
“Jadi, menurut saya akan ada transisi panjang untuk sampai di akhir pandemi dan melihat SARS-CoV-2 ke depannya,” ucap Maria.
Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Riris Andono, melihat transisi dari pandemi ke endemi yang dilakukan di sebuah negara berbeda.
Hal itu bisa diartikan sebagai cara suatu negara merespons kondisi yang ada dan disesuaikan dengan pilihan kebijakan pemerintah. Isu lebih ditekankan pada cara merespons pengendalian penyakit tersebut.
“Apakah kita masih merespons seperti kemarin di situasi pandemi, yang modelnya kayak respons bencana, atau kalau endemi itu responsnya seperti yang sudah ada dalam program-program pengendalian penyakit,” ucapnya.
Baca juga: Aturan Baru Perjalanan Domestik, Tak Lagi Gunakan Tes Covid-19Riris menganalogikan, penanganan penyakit itu seperti respons pengendalian DBD, yang sering mewabah saat musimnya tiba. Ada infeksi yang tidak bergejala dan bergejala sehingga harus dilarikan ke rumah sakit, atau bahkan meninggal dunia.
“Pendekatan-pendekatan seperti itu yang saya rasa akan menyebabkan penyakit Covid-19 ini bisa dikelola, seperti kita mengelola pengendalian demam berdarah,” kata Riris.
(jqf)