LANGIT7.ID, Jakarta - Dai kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, Rasulullah SAW telah mengabarkan kondisi akhir zaman yang diwarnai berbagai macam peristiwa. Di antara tanda itu adalah persaingan infrastruktur, kekuasaan, dan perluasan wilayah.
Konflik Rusia-Ukraina bisa menjadi salah satu contoh negara-negara maju yang memperkaya infrastruktur mereka, tapi berujung pada perluasan wilayah dalam berbagai bidang, seperti ekonomi dan teknologi.
“China dengan program OBOR-nya (One Belt One Road -red), Rusia yang berambisi mempunyai kekaisaran yang luas, Amerika yang semakin mempertahankan wilayah dan lain sebagainya,” kata UAH melalui akun
YouTube-nya, dikutip Kamis (10/3/2022).
Baca juga: Benarkah Rusia Bangsa Rum dalam Nubuat Rasulullah SAW?UAH lalu memberikan empat pandangan terkait konflik Rusia-Ukraina yang kini masih terus berlanjut. Berikut empat pandangan tersebut:
1. Umat Islam Harus Menjadi PenengahJika terjadi konflik antara dua pihak atau lebih dalam suasana bertikai, umat Islam sejatinya harus menjadi penengah. Umat Islam harus tampil memberi solusi dan tidak memprovokasi pihak yang bertikai untuk mengambil keuntungan.
Provokasi hanya akan memperkeruh keadaan dan menghancurkan pihak yang tengah bertikai.
“Alangkah baiknya untuk memberikan solusi yang menenangkan dan mendamaikan kedua belah pihak,” ucap UAH.
2. Memberi Solusi Positif dan BermanfaatUmat Islam harus datang memberi solusi yang menenangkan, mencerahkan, dan memberi manfaat bagi kedua pihak. Solusi itu berpotensi membangun kesepakatan sehingga pertikaian bisa berhenti, dan perdamaian bisa terwujud.
Baca juga: Persis Dorong Indonesia Inisiasi Perdamaian Perang Rusia-Ukraina3. Keburukan Harus Dibalas dengan KebaikanSikap buruk tidak harus dibalas dengan yang buruk juga. Hal tersebut tercantum dalam Surah Al-Fussilat ayat 34. Dalam ayat itu, Allah Ta’ala menggambarkan, tidak seharusnya sifat yang jelek harus dibalas dengan sifat yang jelek juga.
Sejatinya, tidaklah sama yang baik dengan yang buruk, sehingga manusia harus memberikan respons positif kepada perlakuan-perlakuan yang negatif. Perlakuan jelek perlu dijawab dengan baik, dengan ketenangan, kedamaian, dan kelembutan.
“Hingga akhirnya, konflik atau pertikaian tersebut melunak dan menimbulkan perdamaian,” tutur UAH.
4. Pemerintah Harus Memperhatikan Gerakan SeparatisUAH juga mengingatkan pemerintah Indonesia untuk memperhatikan gerakan separatis yang mungkin terjadi, terutama meminta dukungan ke luar negeri.
Baca juga: Muhammadiyah Sebut Perang Rusia-Ukraina Bukan Masalah AgamaMenurut dia, hal itu mungkin saja bisa menimbulkan kesan yang negatif dalam pemerintahan Indonesia, sehingga perlu mendapatkan perhatian. Ini agar tidak ada pengakuan dari dunia luar yang dapat menganeksasi Indonesia.
(jqf)