Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home sosok muslim detail berita
Peradaban Islam

Jabir Ibn Hayyan, Bapak Kimia Modern

Muhajirin Sabtu, 12 Maret 2022 - 13:07 WIB
Jabir Ibn Hayyan,  Bapak Kimia Modern
Patung Jabir Ibn Hayyan (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Kimia adalah ilmu alam yang mempelajari struktur materi, perubahan kimia yang terjadi dalam keadaan tertentu dan keteraturan yang dapat ditarik dari itu.

Di kalangan umat Islam, banyak ilmuwan yang fokus mengkaji bidang ilmu tersebut. Namun, alih-alih belajar tentang kontribusi mendasar mereka dari basis data ilmiah, ide-ide mereka hanya dapat ditemukan dalam novel fiksi. Hal ini disebabkan oleh gambaran yang salah dari banyak orang tentang cara umat Islam melakukan penelitian kimia.

Kimia versus Alkimia

Istilah 'alkimia' umumnya digunakan ketika berbicara tentang jenis kimia yang diduga belum dipraktikkan seperti yang dilakukan saat ini.

The Ordinall of Chemistry menyatakan, kimia sebagai ilmu berasal dari sekitar abad ke-17 dan ke-18. Dibandingkan dengan standar saat ini, kimia tidak akan dipraktikkan secara ilmiah sebelum itu.

Ini berarti bahwa ahli kimia pada waktu itu tidak secara khusus mencari penjelasan kritis tentang gejala kimia. Ilmu pengetahuan pra abad ke-17 dengan demikian disebut 'alkimia'. Beberapa ilmuwan menentang pendapat ini.

Baca juga: Dokter Muslim Telah Temukan Obat Kanker Sejak Abad ke-12

Beberapa fakta menunjukkan, para ilmuwan muslim tidak hanya berkontribusi pada apa yang disebut alkimia. Eric John Holmyard, seorang sejarawan, ahli kimia, memastikan, klaim tidak masuk akal dari ilmuwan seperti Berthelot (seorang ahli kimia Prancis) tidak benar.

Dalam Makers of Chemistry, ia menguraikan evolusi kimia dari awal hingga zaman modern. Dalam karya ini ia menyatakan, kimia Islam sebenarnya adalah dasar untuk kimia modern. Dia berbicara tentang beberapa ilmuwan Muslim, termasuk ahli kimia paling terkenal: Jabir Ibn Hayyan (Geber).

Abu Musa Jabir bin Hayyan

Jabir, lahir sekitar tahun 721 dan meninggal sekitar tahun 815 di desa Tus (sekarang Iran), dibesarkan dalam keluarga yang tidak mengenal kimia, karena ayahnya adalah seorang apoteker. Itu kemungkinan besar akan menjadi penyebab ketertarikannya pada kimia.

Ayah Jabir kemudian dieksekusi karena perjuangan politik saat itu, yang memaksanya untuk melarikan diri ke kota Kufah. Kota ini kemudian diperintah oleh khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid.

Jabir mampu mempraktikkan sains pada tingkat tertinggi berkat hubungannya dengan Barmakid (keluarga Persia berpengaruh yang menasihati khalifah Abbasiyah pertama).

Fokus Jabir pada eksperimen

Jabir Ibn Hayyan tanpa diragukan lagi adalah salah satu ilmuwan Muslim besar. Holmyard secara sah menamainya 'Bapak Kimia'. Menurut Holmyard, salah satu aspek mendasar yang dibawa Jabir adalah pengembangan sisi praktis kimia: melakukan eksperimen.

Eksperimen memisahkan sains seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam dari tradisi spekulasi Yunani Kuno. Jabir menekankan pentingnya bereksperimen:

"Yang paling penting dalam kimia adalah Anda harus melakukan kerja praktik dan melakukan eksperimen, karena dia yang tidak melakukan kerja praktik atau membuat eksperimen tidak akan pernah mencapai tingkat penguasaan yang paling sedikit pun."

Kontribusi material dari Jabir

Perhatian Jabir terhadap presisi membuatnya menciptakan timbangan yang dapat menimbang dengan akurasi 1/6 gram. Baginya, bereksperimen dengan materi berarti dia bisa mencampur, memanaskan, mendinginkan, menggiling, memanggang, dan mengaduk berbagai zat.

Citra tradisional tempat kerja 'alkemis' sangat mirip dengan apa yang kita sebut laboratorium kimia hari ini.

Baca juga: Budaya Ilmu Tinggi, Kunci Peradaban Islam Bisa Kuasai Dunia

Untuk melakukan eksperimennya secara akurat, ia merancang berbagai jenis wadah baru seperti retort. Eksperimennya dengan berbagai proses kimia memungkinkan dia untuk memicu reaksi seperti reduksi (reaksi yang melibatkan perolehan elektron), kalsinasi (oksidasi melalui pemanasan, misalnya pembakaran kapur) dan mungkin yang paling penting: distilasi.

Menggunakan alembic buatannya, dia menciptakan cara sederhana untuk menyaring. Alembic adalah konstruksi sederhana dari dua botol yang dihubungkan oleh sebuah tabung.

Salah satu botol dipanaskan dan menyebabkan cairan di dalamnya mengembun dan menetes ke bawah melalui tabung. Alembik tersebut kemudian digunakan untuk memurnikan minyak mineral menjadi minyak tanah yang dapat digunakan sebagai minyak lampu.

Perkembangan kimia oleh Jabir

Sepuluh abad sebelum John Dalton (seorang fisikawan dan kimiawan Inggris yang dikenal melalui teori atom dan teori molekulnya), Jabir menciptakan citra ikatan kimia sebagai penghubung antar unsur, bahkan partikel kecil yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Semua tanpa kehilangan pemahaman tentang karakteristik aslinya.

Baca juga: Ibnu Haitsam, Fisikawan Muslim Abad ke-11 Pancarkan Cahaya Hingga Abad 21

Jabir juga mengidentifikasi banyak zat baru. Sering dikatakan dia menemukan asam kuat seperti asam sulfat, asam klorida dan asam nitrat. Penemuan-penemuan ini terbukti sangat penting bagi kimia modern, bahkan menjadi penting bagi industri kimia.

Last but not least: Jabir juga meletakkan dasar untuk apa yang sekarang dikenal sebagai tabel periodik unsur Mendeleev. Dia mencoba membuat tabel untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, seperti Mendeleev.

Ini didasarkan pada gagasan Yunani Kuno untuk mengklasifikasikan unsur-unsur lebih lanjut ke dalam kelompok logam, non-logam, dan zat yang dapat disuling. Dengan cara itu tabelnya entah bagaimana menyerupai tabel periodik unsur modern, di mana non-logam dan gas dapat dibedakan.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)