LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar sejarah Islam, Ustadz Budi Ashari, menilai seseorang tidak mustahil bisa menjadi pakar di berbagai macam bidang keilmuan. Hal tersebut pernah dibuktikan oleh ulama terdahulu.
Budi Ashari mencontohkan sosok Amir bin Syurahbil bin ‘Abd bin Dzi Kibar, atau dikenal Asy-Sya’bi. Beliau merupakan tabi’in yang lahir 6 tahun setelah masa khalifah Umar bin Khattab.
Pada masa beliau, ada satu kebiasaan di kalangan para tabi’in. Mereka tidak berani berceramah atau berkomentar perihal apapun jika ada sahabat nabi. Tapi berbeda dengan Asy-Sya'bi. Dia memiliki majelis ilmu sendiri.
Baca juga: Cara Tepat Menanamkan Adab dan Akidah pada Anak“Itu karena saking kokohnya ilmu beliau. Dia ulama yang ahli di berbagai bidang ilmu. Untuk mengetahui keahlian beliau maka ditunjukkan ilmu yang beliau tidak ahli, itu yang membuat masyarakat sangat kagum sama beliau. Karena kagum, akhirnya orang bertanya bagaimana bisa menjadi pakar atau ahli di berbagai macam bidang keilmuan,” kata Budi Ashari dalam salah satu tausiahnya di
Eraumat TV, dikutip Rabu (23/3/2022).
Asy-Sya’bi merupakan ulama cerdas, memiliki analisa tajam, pemahaman bagus, daya hafal kuat serta ingatan. Untuk mengetahui kecerdasan beliau bisa dilihat dari bidang ilmu yang tidak dikuasai.
Dia pernah berkata, “Aku tidak pernah meriwayatkan suatu disiplin ilmu yang lebih sedikit dari bait-bait syair, namun seandainya aku mau, aku bisa mengucapkan bait-bait syair tersebut selama satu bulan penuh tanpa pengulangan.”
“Ilmu syair merupakan bidang keilmuan yang tidak beliau kuasai, tapi sudah sehabat itu,” kata Budi Ashari.
Empat Resep Memahami Ilmu Ala Asy-Sya’biAsy-Sya'bi lalu menyampaikan empat resep memahami ilmu. Empat resep itu bisa dipraktikkan oleh seluruh penuntut ilmu, terutama umat Islam. Dia pernah ditanya, “Darimana engkau mendapatkan ilmu (kecerdasan) ini?”
Dia menjawab, tidak mengandalkan kemampuan diri, melakukan perjalanan lintas negeri, sabar sebagaimana sabarnya burung merpati, dan bersegera sebagaimana bersegaranya burung gagak.
Baca juga: Kesetaraan dalam Islam, Kunci Kesuksesan Sebuah Rumah TanggaPertama, tidak bersandar dengan kemampuan sendiri. Sebab, bagi seorang yang berilmu, hafalan kuat dan kecerdasan saja tidak cukup. Ada pertolongan dan izin Allah yang melandasi kemampuan manusia. Maka itu, para penuntut ilmu harus mengawali pengembaraan mencari ilmu dengan meminta pertolongan dari Allah Ta’ala.
Kedua, menjelajahi negeri untuk belajar ilmu. Imam Syafi’i berangkat sejauh 500 km untuk belajar. Akan tetapi, tidak boleh sekadar menjelajah tanpa ada kebaikan yang diperoleh. Menempati satu tempat yang ada ahli ilmu di dalamnya akan lebih baik daripada sekadar merantau. Sebagaimana Imam Syafi’i yang baru meninggalkan Madinah setelah Imam Malik wafat.
Ketiga, bersabar seperti kesabaran benda mati. Siapa yang lebih bersabar dan mampu bertahan lebih lama, maka dia akan memperoleh banyak ilmu. Itu nasihat emas dari Asy-Sya’bi.
Hal itu karena suatu generasi akan lemah, jika kesabaran mereka sudah lemah. Tidak tahan dengan waktu belajar yang lama dan tempat belajar yang jauh. Tidak tahan dengan guru yang mendidik dengan ketegasan.
Keempat, cekatan sepertai bersegeranya burung gagak yang memburu mangsa. Seorang pelajar tidak boleh lelet, lambat, dan bermalas-malasan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah RA:
"Antusiaslah terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”
“Maka jadilah generasi yang sigap dan cekatan terhadap setiap peluang kebaikan. Peluang mendapatkan ilmu, peluang berinfak, dan peluang-peluang amal shalih lainnya,” ucap Budi Ashari.
(jqf)