LANGIT7.ID, Jakarta - Ibunda Aisyah RA merupakan istri kesayangan Rasulullah SAW. Putri Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan wanita terhormat yang meriwayatkan 2000 hadits dari baginda Nabi Muhammad SAW.
Sejumlah hukum terkait perempuan dan rumah tangga merujuk kepada Aisyah RA. Tidak semata menjadi tempat bertanya para sahabat, Ibunda Aisyah juga memiliki ingatan dan kecerdasan luar biasa. Itu menjadikan beliau sebagai rujukan hukum Islam.
Syekh M Ali As-Shabuni dalam
Rawa'iul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam mina Qur'an mengatakan, Aisyah adalah istri Rasulullah SAW yang dinikahi saat gadis juga dikenal sebagai istri cerdas dan palingkuat hafalannya dibanding istri lain. Bahkan, dia lebih cerdas daripada laki-laki pada zamannya. Tidak heran jika enjadi tempat bertanya ulama-ulama terkemuka di kalangan sahhabat Rasulullah SAW.
Nah, berikut ini fakta ibunda Aisyah RA:
1. Dekat dengan Nabi Muhammad SAWIbunda Aisyah RA termasuk orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Dia adalah istri dan tinggal bersama Rasulullah sampai beliau meninggal. Dia dikenal sebagai wanita yang kuat dan tangguh.
Aisyah juga dikenal sebagai wanita yang sangat taat beribadah kepada Allah. Dalam buku-buku sejarah, beliau digambarkan sebagai wanita yang dikaruniai kecerdasan luar biasa, kesalihan dan kecantikan yang luar biasa.
Baca juga: Ketika Rasulullah Bercanda dengan Sahabat dan Sang IstriSayyidah Aisyah menjalani sepuluh tahun hidupnya bersama Nabi Muhammad. Dalam kurun waktu tersebut, ia telah mempelajari Islam langsung dari baginda Nabi dan mendapat berkah bisa hidup bersama Rasulullah dalam naungan rumah tangga.
Cara hidup Aisyah dibentuk oleh tuntunan Nabi. Dia tidak hanya mengetahui dan menjalankan Sunnah, tetapi juga menghafal Al-Qur'an, memahami, dan mantadabburinya.
Pernikahan Sayyidah Aisyah dengan Nabi penuh cinta dan kasih sayang. Ada banyak riwayat yang merinci cinta antara Aisyah dan Nabi SAW. Itu menjadi contoh bagaimana seharusnya pernikahan Muslim.
2. Cendekiawan Muslimah Terkemuka, Guru Sahabat dan TabiinAisyah memiliki banyak kelebihan, salah satunya ingatan yang kuat dan kecerdasan. Dia masih muda ketika menikah dengan Nabi SAW dan mampu menyerap pengetahuan serta segala informasi dari Rasulullah.
Kemampuan ini membuatnya menjadi pendidik dan pemancar pengetahuan kepada umat Islam. Banyak sahabat dan tabiin yang belajar kepada beliau.
Dalam kitab Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqalani,
Al-Isobah Fi Tamyiz As-Sohabah, dikatakan, jika ilmu Sayyidah Aisyah ditempatkan di satu sisi timbangan dan semua wanita lain di sisi lain, sisi Aisyah akan lebih besar daripada yang lain.
Salah satu sahabat, Abu Musa mengatakan, “Setiap kali ada hadits yang sulit kita pahami (para sahabat Nabi), dan kami bertanya kepada Aisyah, kami selalu menemukan bahwa dia memiliki pengetahuan tentang hadits itu."
Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni: Terlupakan di Bumi, Terkenal di LangitSayyidah Aisyah meriwayatkan begitu banyak hadits, sehingga para ulama menyebutkan dua pertiga dari Syariah Islam didasarkan pada laporan dan interpretasi dari beliau.
Aisyah adalah bagian dari sekelompok sahabat, sebagaimana dicetuskan oleh para ulama, yang dikenal paling banyak meriwayatkan Nabi (Al-Mukthirun Fi Ar-Riwayah), bersama Abu Hurairah, Abdullah Ibn Abbas dan Abdullah Ibn Umar. Dia memahami seluk-beluk hukum dalam iman karena kecerdasan dan penguasaan fikihnya.
3. Guru yang Fasih Menguasai Banyak Bidang IlmuMusa Ibn Talha sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi dalam Sunan-nya berkata, “Saya belum pernah melihat orang yang lebih fasih dari Aisyah."
Aisyah sangat murah hati dan senang mengajar tentang apa saja. Dia menyampaikan ceramah dengan fasih, menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan sulit lalu meneluarkan fatwa.
Dia mendedikasikan hidupnya untuk mengajar tentang ilmu-ilmu Islam. Bahkan, dia juga menguasai dan mengajar ilmu matematika, kedokteran, puisi, dan sejarah.
4. Mengangkat Derajat PerempuanKecerdasan dan keluasan ilmu Aisyah secara tidak langsung mengangkat derajat dan martabat wanita. Dia selalu ingin belajar dan mengambil banyak ilmu dari Rasulullah SAW.
Saat mengajar selepas Rasulullah wafat, Aisyah selalu memuji wanita yang mengajukan pertanyaan, meskipun mereka pemalu. Rasa malu tidak menghentikan mereka untuk belajar dan mencari kebenaran dan pengetahuan.
Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan, pria dan wanita memilii hak sama dalam hal belajar. Bahkan di zaman Rasulullah ada majelis khusus untuk perempuan. Itu pula yang dipraktikkan oleh Aisyah. Dia mengajar tanpa pandang bulu, mau pria atau wanita semua diajar.
Baca juga: 4 Pendapat Seputar Wudhu saat Bersentuhan Laki-Laki dan PerempuanSejak abad ke-7, lebih dari 1400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW telah merevolusi hak-hak perempuan. Islam memberi mereka hak-hak yang belum diberikan di belahan dunia lain.
Perempuan di zaman Nabi tidak harus memperjuangkan hak-haknya. Hak mereka diberikan kepada mereka oleh Nabi. Selama abad ke-7 ini, wanita muslimah juga diberikan hak untuk memilih pada masa kekhalifahan Umar bn Khattab, ketika tidak ada budaya lain dari seluruh dunia yang memberikan hak yang sama kepada wanita.
Sayyidah Aisyah adalah contoh yang baik untuk menjadi wanita yang tinggi dalam ilmu dan kontribusi tanpa perlu mengorbankan kehormatan, martabat dan ketakwaan.
(jqf)