LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, mengatakan, Ramadhan menjadi tolok ukur keimanan seorang muslim. Jika hati merasa senang dengan hadirnya Ramadhan, itu menandakan iman kuat. Jika merasa sedih dan memperbanyak makan di bulan Sya’ban, itu menandakan iman orang tersebut dipertanyakan atau sedang rapuh.
“Oleh karena itu, penting mengukur tarhib ini menggemakan tarhib juga kepada masyarakat agar imannya kita dan masyarakat itu naik, dengan barometer kegembiraan kita menyambut Ramadhan,” kata KH Cholil dalam acara Syiar Islam & Tarhib Ramadhan 1443 H, Kamis malam (31/3/2022).
Kegembiraan menyambut Ramadhan ini bisa dalam bentuk rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Ada pula kegembiraan yang ditunjukkan dalam bentuk tradisi. Dia mencontohkan tradisi Padusan di pulau Jawa. Dalam tradisi itu, masyarakat Jawa datang ke tempat pemandian khusus untuk menyambut Ramadhan.
Baca juga: Pimpinan Gontor: Ramadhan Penghormatan untuk Orang BerimanDi Mesir beda lagi. Di sepanjang jalan, ada pelita yang dinyalakan sebagai tanda Ramadhan telah tiba. Di Lebanon, masyarakat membunyikan meriam mainan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Itu merupakan contoh ekspresi kebahagiaan menyambut bulan penuh rahmat.
“Kita diperintahkan untuk menyambut rahmat dan kasih sayang Allah. Kita senang dan bahagia, lebih senang daripada harta yang kita kumpulkan. Kenapa kita merasa senang? Karena bulan Ramadhan itu kita bisa kembali kepada kemanusiaan yang sejati,” ucap KH Cholil.
Ramadhan Sebagai Balai Latihan KemanusiaanKH Cholil menjelaskan, Ramadhan merupakan madrasatun insaniyatun (balai latihan kemanusiaan) untuk Idul Fitri (kembali menjadi fitrah). Pada bulan itu, umat Islam dilatih untuk menahan diri dan bisa mengontrol diri.
“Kita dilatih untuk berimsak, menahan diri.
Ash-Shaum adalah Imsak (menahan diri), yang halal pun kita berani tinggalkan karena Allah, apalagi yang haram. Kira-kira gambaran itulah untuk menjadi manusia yang sejati, sehingga kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya,” tuturnya.
Ramadhan Bulan Panen PahalaDi samping itu, KH Cholil menjelaskan, Ramadhan merupakan bulan panen pahala dan merontokkan berbagai dosa. Allah Ta’ala membuka pintu maghfirah (ampunan) selebar-lebarnya pada bulan ini. Setiap umat Islam diseru untuk memasuki pintu tersebut menggunakan kunci taubat melalui jalan Ramadhan.
“Maka para ulama, berdoa 6 bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Karena apa, karena pada bulan Ramadhan itu segalanya untuk kita menggugurkan dosa dan memperbanyak pahala,” kata KH Cholil.
Baca juga: Kiat Menyambut Datangnya Bulan RamadhanRamadhan Mendapatkan Surga AllahAllah Ta’ala juga membuka lebar pintu surga pada bulan Ramadhan. Orang yang melewatkan Ramadhan dan tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah, sama saja tak bisa mendapatkan surga-Nya. Orang yang melewatkan Ramadhan seumpama tikus mati dalam lumbung padi.
“Artinya, di tengah meriahnya obral pahala dan rontoknya dosa-dosa, kita tidak melakukan secara maksimal. Itu kerugian besar,” jelas KH Cholil.
(jqf)