LANGIT7.ID, Jakarta - Pintu Ramadhan telah terbuka lebar. Semua umat Islam bercuka-cita memasuki bulan penuh rahmat tersebut. Beberapa kalangan terbiasa dengan saling meminta maaf dan memaafkan menjelang Ramadhan.
Tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan sebenarnya mirip saat hari lebaran. Biasanya, pada kedua momen itu, gawai penuh dengan pesan serupa. Tradisi ini sudah menjadi lumrah di tengah masyarakat.
Dai kondang, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menilai maaf-maafan menjelang Ramadhan dan lebaran merupakan tradisi yang baik. Tradisi itu sama sekali tidak menyalahi syariat.
Baca juga: KH Maruf Amin: Puasa Harus Lahirkan KetakwaanNamun, UAH menekankan, saling maaf-maafan bukan hanya pada dua momen tersebut. Maaf-maafan harus dilakukan setiap waktu. Anjuran tersebut sesuai dengan Surah Ali-Imran ayat 133-134.
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali Imran: 133-134).
Ayat di atas mengandung perintah untuk menahan amarah dan segera memberikan maaf kepada orang yang bersalah. Perbuatan itu sangat berat. Namun, itu menjadi salah satu amal kebaikan yang sangat dicintai oleh Allah Ta’ala.
“Ketika punya salah terhadap orang lain, maka kata Allah disegerakan meminta maaf,” kata UAH dalam tausiahnya di
Akhyar TV, Jumat (1/4/2022).
Meminta maaf dan memaafkan tak perlu menunggu Ramadhan. Jika kita bersalah maka segeralah meminta maaf. Orang yang menjadi objek kesalahan pun demikian, harus segera memaafkan. Itu akan menciptakan kedamaian di tengah masyarakat.
Terlebih pada bulan Ramadhan. Ketika semua orang tak lagi memiliki rasa benci dan dengki antarsesama, maka Ramadhan akan semakin indah. Sehingga, setiap orang bisa meningkatkan keimanan pada bulan itu untuk mencapai derajat takwa.
UAH menyebut ada dua ketakwaan yang harus dilatih selama Ramadhan. Pertama, takwa kepada Allah seperti rajin shalat, rajin membaca Al-Qur’an, rajin berinfak, dan ibadah lain. Kedua, takwa berbentuk hubungan dengan manusia.
Baca juga: KH Cholis Nafis: Ramadhan adalah Madrosatun InsaniyyunOrang yang paling beruntung pada bulan ini adalah ketika mampu mengintegrasikan
hablumminallah (hubungan hamba dengan Allah) dan
hablumminannas (hubungan kepada sesama manusia).
Rasulullah pun telah mengingatkan umatnya agar tidak menyakiti hati orang lain, berkata kotor, mencela, menahan nafsu, dan menebarkan cinta di alam semesta. Namun, perlu diingat, kebaikan tersebut tak hanya berlaku pada bulan Ramadhan saja.
Keberhasilan puasa seseorang dilihat setelah Ramadhan berlalu. Jika ibadah tak kendor usai Ramadhan, itu berarti Allah meridhai puasanya. Demikian pula sebaliknya. Jadi, bertakwalah sepanjang waktu.
(jqf)