LANGIT7.ID - Ada banyak cara yang orang tua bisa lakukan agar anak melewati masa kecil dengan bahagia. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa bahagia itu menular.
Hal itu disampaikan oleh Psikolog Universitas Airlangga Dwi Retno Suminar dalam sebuah webinar yang digelar Fakultas Psikologi Unair.
"Happy Parents, Happy Kids," kata Dwi.
Artinya, kata dia, hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah berkomitmen untuk berbahagia terlebih dulu. Sebab kebahagiaan orang tua akan menular kepada anak.
"Ini merupakan pesan sederhana, yakni orang tua bertanggung jawab menjadi orang bahagia, lalu menunjukkan dan menularkan gaya hidup bahagia kepada anak," kata Dwi.
Terlebih pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Tiap hari sirine ambulans terdengar, grup percakapan daring ramai dengan berita duka, sampai pengumuman dari pengeras suara masjid perihal orang meninggal. Rentetan itu kejadian tentu berpengaruh pada kondisi psikologis orang tua.
“Pandemi yang lama, mulai dari PSBB hingga PPKM, membuat kita merasa jenuh, stres, dan bingung. Tak bisa dipungkiri bahwa stres dan bingungnya orang tua juga akan menular kepada anak-anak,” kata Dwi dikutip akun Youtube Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Kamis (29/7/2021).
Hal itu harus menjadi perhatian besar bagi orang tua. Anak-anak selalu melihat ekspresi wajah orang tuanya. Kadang, tanpa sadar orang tua larut dalam kesedihan sehingga menularkan kepada anak. Dwi menegaskan, perasaan sedih memang tidak bisa dihindari. Itu tabiat manusia. Namun kesedihan bisa diatasi dengan upaya bersikap tenang.
“Kita semua bisa kok menjadi bahagia. Bisa tenang menghadapi semuanya. Anak-anak bisa melewati semua masalah dengan tenang kalau kita bisa menyiapkan mereka dengan baik,” ucap Dwi.
Bahagia itu bisa diciptakan. Bahagia itu ada di dalam
cognitive triangle yakni
behaviors (perilaku),
feeling (perasaan), dan
thoughts (pikiran). Berawal dari olah pikiran. Upayakan terus berfikir positif saat menghadapi suatu masalah. Pikiran positif akan menimbulkan perasaan tenang dan tindakan yang tenang pula.
“Olah dari pikiran dulu, kalau mau bahagia maka berusaha mencari hikmah di balik segala sesuatu. Kita harus melihat nilai positif dari kejadian. Selalu ada hal positif dibalik semua kejadian, tinggal bagaimana mengolah pikiran agar bisa menemukan hal positif tersebut,” ucap Dwi.
Dia menyimpulkan, kebahagiaan itu pilihan, bisa diciptakan, dan tidak bersyarat. Kebahagiaan ada di dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Hal terpenting adalah kembangkan sikap positif anak, atmosfer keluarga mendukung, jangan membatasi tapi percayalah kepada anak.
(jqf)