LANGIT7.ID, Jakarta - Rindu lebaran di kampung halaman jadi kerinduan mahasiswa yang tengah menjalankan ibadah puasa di luar negeri. Seperti yang dirasakan Alfaro Wibisono, mahasiswa di Hochschule Bremen jurusan Betriebswirtschaftlehre (BWL) di Bremen, Jerman.
Bagi Alfaro, lebaran bersama keluarga merupakan momen yang sangat dinantikan. Lebaran jadi momen berkumpul bersama keluarga jauh dan sungkeman alias maaf-maafan.
“Apalagi aku dapat memakan masakan lebaran yang dimasak oleh nenek dan budeku yang tidak ada duanya,” kata Alfaro, dikutip laman
DW, Sabtu (23/4/2022).
Baca juga: Belajar Islam di Spanyol, Kala Muslim Jadi Ujung Tombak PeradabanHarapan lebaran di kampung memang tak selamanya bisa terwujud. Ada banyak pertimbangan yang bisa jadi penghalang. Jarak sudah pasti. Biaya apalagi. Namun, lebaran di negeri orang juga menyurat pengalaman indah bersama teman-teman senasib, yang tak pulang ke negara masing-masing.
“Tapi sebenarnya, secara tidak sadar, aku juga sedang membuat memori indah lebaran bersama teman-temanku. Masak dan makan bersama, menggurutu bersama akan rindunya lebaran di Indonesia, mendengarkan khutbah yang aku tidak tahu apa isinya karena bahasa Arab atau Turki semua,” kata Alfaro.
Dia menyebut episode lebaran di Jerman itu akan menjelma jadi pengalaman yang bakal dirindukan suatu saat nanti. Momen lebaran di negeri orang selalu menyimpan cerita yang bisa jadi dongeng penghantar tidur anak cucu nanti.
“Jadi menurutku, menjalankan bulan puasa di Jerman tidak begitu buruk seperti yang dibayangkan. Ya, memang, durasi puasanya lebih lama dan suasana bulan Ramadhannya tidak seramai di Indonesia, tapi banyak kelebihannya juga,” ucap dia.
Salah satu kelebihan puasa di Jerman adalah bisa menjadi lebih mandiri dan kesempatan mempererat pertemanan saat berbuka puasa. Di sisi lain, komunitas muslim di Jerman sering membagikan makanan gratis.
Masjid-masjid lokal milik komunitas Turki dan Arab terkadang menyediakan makanan buka puasa gratis. Hanya saja, mereka menyediakan makanan khas negara mereka. Tapi tidak masalah, itu kabar baik untuk mahasiswa yang diharuskan berhemat.
“Aku bersyukur di kotaku sekarang ini, Bremen, terdapat komunitas Islam. Mereka menyediakan bukaan seperti bukaan di Indonesia pada umumnya secara gratis. Aku tentunya seorang mahasiswa yang hobinya ngirit sebisa mungkin sangat gembira mendengar ini,” kata Alfaro.
Baca juga: Tantangan Puasa di Wilayah Perang, antara Sedih dan BahagiaNamun akhirnya, Alfaro menyedari, puasa menyimpan sejuta hikmah. Pelajaran paling nyata adalah kenikmatan saat berbuka. Umat Islam diperintahkan lapar dan dahaga berjam-jam hanya untuk menikmati santapan buka selama 7 menit.
“Jadi, aku mengambil hikmah bahwa kenikmatan dunia ini hanya bersifat sementara, dan yang harus kita kejar sebenarnya di atas sana,” kata Alfaro.
(jqf)