LANGIT7.ID, Jakarta - Tradisi buka puasa bersama kembali hidup setelah dua tahun melewati pandemi Covid-19. Tahun ini, umat Islam bisa melaksanakan ibadah puasa tanpa sekat-sekat pembatasan jarak dan sosial.
Jakpat mengeluarkan survei di Indonesia dengan mengumpulkan 1085 responden. 61 persen di antara mereka mengatakan berminat buka puasa bersama, meski dalam suasana pandemi.
Indeks pencarian kata bukber di Google berada di angkat 38 pada pada 3 April 2022. Indeks berada di angka 38. Meski angka itu masih rendah, ketika dicek kembali pada 15 April 2022 sudah mencapai 100. Tidak heran kalau hotel-hotel dan rumah makan penuh untuk kegiatan buka puasa bersama.
Buka puasa bersama memang ajang untuk silaturahmi, nostalgia, saling memaafkan, dan membangun hubungan yang lebih baik. Namun, hal berbeda ketika tidak ada lagi pembatasan sosial. Bukber justru jadi ajang pamer, salah satunya pamer
outfit.
Baca juga: 5 Tips Terhindar Jebakan Flexing, Ampuh Hadapi Investasi BodongGuru Besar bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, mengatakan, pamer saat bukber itu memiliki kaitan erat dengan
flexing.
Marak di media sosial video semacam itu. Setiap tamu yang datang disoroti satu per satu, lalu ditanya mengenai outfit yang dikenakan. Usai menjawab, sang tamu diberi bintang berdasarkan kemewahan yang dikenakan.
“Inilah yang sekarang tengah terjadi. Kalau dulu, begitu mendengar adzan, tangan sudah diangkat untuk berdoa. Kalau sekarang, semakin banyak orang yang memotret makanan,” ucap Rhenald di akun
YouTube-nya, Selasa (26/4/2022).
Tren itu menyebabkan banyak milenial insecure setelah pulang dari buka puasa bersama. Itu karena bayangan mereka bukber adalah ajang silaturahmi dan nostalgia, tapi justru jadi ajang pamer
outfit, pekerjaan, dan lain sebagainya.
Sebetulnya, tidak mengapa pamer. January Jones pernah mengatakan, tidak mengapa pamer kalau kamu punya sesuatu yang bisa dipamerkan. Tetapi Robert Hand di sisi lain mengatakan, jadi diri sendiri saja karena setiap orang punya jati dirinya masing-masing. Tidak perlu pamer jika memiliki sesuatu yang lebih baik.
“Semakin hebat, semakin tidak perlu pengakuan. Mengapa manusia pamer, sebetulnya ada beberapa studi yang pernah dilakukan,” ucap Rhenald.
Stephen Garcia, profesor di University of Michigan pada 2018 pernah melakukan eksperimen dengan menggunakan 125 responden di Amerika Serikat. Dia membagi dua kelompok, yaitu 64 orang Wanita, 61 pria.
Dia memiliki asumsi bahwa kalau orang itu punya sesuatu yang bisa dipamerkan yang membuat lebih menarik dan status sosial semakin tinggi.
Kelompok pertama disuruh memilih, ketika datang ke pesta mau naik mobil BMW atau mobil Honda? Kesan BMW lebih mewah dibanding mobil Honda. 60 persen di kelompok pertama itu memilih untuk menaiki mobil BMW untuk datang ke pesta.
Kemudian ke kelompok 2, pertanyaan dibalik, kalau memilih teman, kamu memilih mana, punya BMW atau mobil Honda? Ternyata mayoritas menjawab lebih suka berteman dengan orang yang naik Honda.
Itu adalah gejala manusia tentang kehidupan. Manusia yang merasa hebat perlu mobil mewah, tapi ternyata orang yang memilih cari teman tidak melihat dari barang yang dimiliki.
Baca juga: Qarun, Gemar Pamer Harta dan Dibenamkan ke Bumi karena Sombong“Semua orang memiliki keinginan untuk jadi bagian dari kelompok, dan merasa penting. Tapi dalam praktiknya, setiap orang melihat dalam kaca mata berbeda dan ketika mencari teman tidak melihat dari apa yang Anda gunakan, atau Anda pamerkan,” ucap Rhenald.
Hal tersebut sejalan dengan teori yang dibuat Leon Festinger yaitu
Social Comparison Theory, manusia memang pada dasarnya senang membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
Tujuan membanding-bandingkan itu adalah untuk mengevaluasi diri, apakah cita-cita sudah dicapai, mengukur kecerdasan dan lain-lain. Yang menarik, Festinger mengingatkan agar tidak membandingkan diri secara berlebihan, baik ke atas maupun ke bawah.
Membandingkan secara berlebihan akan menimbulkan efek-efek negatif bagi kehidupan seseorang. Efek itu bisa mengganggu ibadah puasa Ramadhan.
“Pada bulan Ramadhan sebetulnya kita harus mengikat keinginan-keinginan, nafsu yang berlebihan, dan kesombongan,” kata Rhenald.
(jqf)