LANGIT7.ID, Jakarta -
Ibadah itu unik. Ia tak seperti aktivitas duniawi. Ia membutuhkan partisipasi dua organ sekaligus "jasad dan hati". Oleh: Abdul Rahman Habsyi (ARH)Shalat yang dilakukan oleh seorang hamba belumlah dikatakan sempurna apabila tak disertai 'kehadiran' hati. Suatu kondisi jiwa yang dalam kamua Islam disebut dengan "khusyuk".
Lalu, apa artinya berdiri, ruku' dan sujud jika tak disertai "kehadiran hati"?
Disinilah keunikan tadi. Ada parameter multi-dimensi dalam pelaksanaan ibadah. Karena ibadah tak hanya menilai aktivitas fisik saja. Parameter hati yang merupakan 'ruh' dari ibadah itu sendiri dan merupakan wujud "beresnya" seorang hamba dengan Rabbnya.
Baca Juga: Hikmah Rahmani - Energi KebaikanSaudaraku... Khusyuk dalam shalat, keikhlasan dalam ber-infaq dan ibadah lainnya adalah bukti 'kehadiran' hati itu.
Apa arti shalat tanpa khusyuk, sedekah tanpa keikhlasan, haji tanpa ada ketundukan dan kepasrahan?
Kita sering kecolongan dan tertipu dengan aktivitas fisik semata. Kita sering terjebak pada rutinitas ibadah tanpa ruh.
Baca Juga: Bisakah Memahami Isra Mi’raj Lewat Pendekatan Sains?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ
“Dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat.” (HR. An-Nasai [7/61] Nomor 3939, 3940, Ahmad [3/128] Nomor 14069).
Jika ibadahmu sepenuh hati padaNya, maka engkau pasti bahagia. Tetaplah bahagia dan berkah selalu. Alfaqier.
Majelis Sahabat Iman Peduli(zhd)