LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar parenting, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, menyebut luka pengasuhan menjadi salah satu penyebab seorang anak menjadi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Luka pengasuhan disebabkan minimnya kehadiran sosok ayah dalam menemani tumbuh kembang anak.
Bendri menyimpulkan hal tersebut setelah didatangi seorang lelaki gay untuk berkonsultasi. Peristiwa itu terjadi sekitar 10 tahun lalu. Bendri didatangi seorang lelaki berwajah lugu. Laki-laki itu dengan malu-malu mengaku sebagai gay.
Kelainan seksual tersebut menciptakan kegelisahan dalam diri lelaki tersebut selama bertahun-tahun. Selama itu pula dia berusaha dan berjuang untuk kembali ke fitrah seorang lelaki yang menyukai perempuan.
Lelaki tersebut mengaku tak memilii wajah rupawan, ada sedikit kekurangan di wajahnya. Itu membuat lelaki itu tak diincar jadi pasangan kencan bagi gay yang lain. Tidak ada yang mau 'menyentuh'nya.
Baca Juga: KH Cholil Nafis: LGBT Harus Diamputasi, Bukan Ditoleransi
"Jadi, meskipun ia gay, ia tak pernah melakukan aktivitas seksual yang lebih jauh dan ekstrim. ini ha yang justru malah dia syukuri," tulis Bendri di akun facebook-nya, Selasa (10/5/2022).
Penyebab Jadi Gay Awal mula, lelaki itu bercerita jika memiliki keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya akur. Bahkan, dia mengaku diperlakukan baik oleh orang tuanya. Dia menduga asal mula menjadi gay karena
labelling 'bencong' saat masih duduk di bangku SMP. Itu yang dia anggap sebagai pemicu gay.
Di tengah sesi konsultasi, Bendri bertana hal ringan kepada lelaki tersebut. "Menurut kamu bapakmu bagaimana?" tanyanya. "Bapak baik. Pekerja keras," jawab singkat lelaki itu. Tidak ada minat melanjutkan.
Bendri pun melanjutkan bertanya, "Apa kenangan yang paling membahagiakan ketika bersama bapak?" lelaki itu pun mendadak menangis. Pelan-pelan air mata keluar dan pecahlah suara tangisan.
"Enggak tau, enggak bisa jawab," jawab lelaki itu singkat. Dia terus menangis sesenggukan. Lumayan lama.
Setelah tenang, Bendri kembali bertanya. Dia mulai berani menjawab dengan kalimat lumayan panjang.
"Bapak baik. Suka ngasih banyak duit lewat mama. Tapi papa sibuk kerja. Cuek. Kalau di rumah, lebih banyak diam. Kalaupun bicara nadanya tinggi. Bukan karena marah. tapi emang kebiasannya ngomong kayak gitu. Saya jadi cemas kalau ngobrol berdua sama bapak. Jadi ga ada hal yang bahagia pas bareng bapak."
Cerita tentang bapaknya hanya sampai di situ. Dari situ, Bendri menyimpulkan, lelaki itu mengalami luka pengasuhan yang kadang tak disadari oleh para ayah. Bahkan para ayah kerap mengabaikan hal tersebut.
"Banyak ayah yang merasa bahwa sudah menjadi ayah yang baik selama tak pernah marah-marah ke anak. Tapi mereka tak tau kalau cuek dan diamnya saat bersama dengan anak juga adalah hal yang menyakitkan. Apalagi kalau ini terjadi dalam waktu yang lama," tutur Bendri.
Bendri menekankan seorang ayah tidak boleh menjaga jarak. Anak butuh asupan ayah saat masih dalam masa pertumbuhan. Jika ada jurang antara ayah dan anak, sang buah hati bisa merasa tak diperhatikan bahkan tak dibutuhkan atau dikenal unwanted children.
Itu merupakan awal dari luka jiwa. Ditambah labelling buruk lingkungan sekitar yang membuat luka itu makin menganga. Luka yang membuat lelaki itu haus perhatian lelaki dewasa. Inilah satu dari sekian penyebab terjadinya penyimpangan seksual.
"Saat dewasa, anak tak ada pilihan lain kecuali menikmati lukanya dengan menganggap penyimpangan seksual yang dialaminya adalah hal yang wajar. Padahal, jauh di dalam nuraninya, mereka meronta-meronta membutuhkan pertolongan," kata Bendri.
Baca Juga: Tafsir Al-A'raf Ayat 80: Homoseks Kejahatan Terbesar Manusia dari Kaum SodomBendri mengatakan, kaum gay seolah-olah nampak bahagia. Padahal. hakikatnya menderita, karena menyelisihi fitrah. Maka, menolong mereka adalah solusi, bukan malah memberikan panggung buat mereka.
"Menjadikan mereka seleb, akan membuat mereka makin eksis dan makin menikmati luka. Euphoria sebagai artis sesaat menjadikan mereka makin enggan megobati luka mereka, bahkan mencari cara agar luka ini main eksis," ucap Bendri.
Kaum gay harus ditolong dengan cara diobati, bukan dibuatkan panggung. Jika mereka dielu-elukan banyak pihak seolah-olah pengganti dahaga akan perhatian dari figur ayah yang tak didapatkan sewaktu kecil.
"Singkatnya, selamatkan mereka dengan menyadarkan para ayah akan perannya dalam pengasuhan. Jika anak sudah terlanjur menyimpang, inilah saatnya sang ayah mengakui kesalahannya. Dan pelan-pelan mengobati luka jiwa anak dengan memperbaiki diri selaku ayah," tutur Bendri.
(jqf)