Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

Pengalaman Ramadhan dan Lebaran di Jantung Sekularisme Eropa

Muhajirin Kamis, 12 Mei 2022 - 17:16 WIB
Pengalaman Ramadhan dan Lebaran di Jantung Sekularisme Eropa
Moch Nurul Huda di salah satu landmark di Prancis (Dok Pribadi)
LANGIT7.ID, Paris - Prancis dikenal sebagai negara sekuler. Prancis memiliki prinsip sekularisme yang dipegang teguh bernama laïcité. Akibatnya agama sering jadi hal sensitif di negara yang jadi kiblat filsafat hingga fesyen di Barat itu.

Hal itu membuat pengalaman menjadi turis muslim di Prancis memiliki tantangan tersendiri. Seperti yang dirasakan Karyawan PTDI, Moch Nurul Huda.

Huda datang ke Prancis pada 25 April 2022 untuk tugas dinas luar negeri. Dia tiba di negara tersebut saat umat Islam seluruh dunia melaksanakan puasa Ramadhan. Hal itu jadi tantangan sebab dia harus berpuasa kurang lebih 16 jam. Kala itu, Huda menginap di hotel bintang 4 Mercure de Bourdon, di daerah Bourges.

"Pada saat itu pihak hotel masih belum diberi tahu bahwa saya dan tim berpuasa, sehingga menu-menunya cenderung standard hotel non-muslim dan jatah sarapan kami masih diberikan pada jam normal sarapan," tutur Huda kepada LANGIT7.ID, Kamis (12/5/2022).

Huda cukup beruntung. Mitra kerjanya di Prancis sangat menghormati saat mengetahui timnya menjalankan ibadah puasa. Keesokan harinya, pihak hotel pun sudah mengkondisikan, sehingga jatah sarapan dimajukan untuk sahur.

Baca Juga: Puasa dan Lebaran Tanpa Keluarga di Jerman, Buat Memori Indah Bersama Kawan

"Namun karena profesionalnya mereka, mereka sangat melayani kami sepenuh hati, sampai-sampai yang tadinya menunya hanya sekedar scrambled egg dan roti-rotian ditambah daging halal dari olahan sapi lokal dan ayam fillet lokal," tutur Huda.

Huda menyebut menjalani puasa di Prancis terbilang menantang, dan merasakan sebenar-benarnya esensi berpuasa bagi seorang muslim. Bukan hanya sekadar menahan haus dan dahaga. Setelah sahur, tidak ada lagi tidur dan bersiap ke tempat dinas.

Puasa makin menantang dengan suhu dingin Prancis. Suhu bisa mencapai 10 derajat ditambah. Cukup menusuk hingga ke tulang yang sudah terbiasa menahan lapar dan hidup di daerah tropis.

Pada 30 April-1 Mei, Huda dan tim bertolak ke Paris. Tantangan berpuasa di pusat kota metropolitan Prancis makin besar. Pakaian minim dan minum-minuman beralkohol bebas dijual di tempat umum.

Huda menyebut, menu sahur di hotel di Paris lebih western lagi, karena hanya roti, scramble egg, dan berbagai macam keju, yoghurt, jus yang hanya bisa dikonsumsi. Namun, bersyukur Huda menemukan restoran yang menyediakan makanan halal.

Makanan halal di Paris yang ditemui kebanyakan adalah kebab yg sedikit berbeda dari kebab di Bourges. Hanya terdiri dari irisan daging ayam, kentang goreng, dan salad sayur tanpa nasi.

Pengalaman Ramadhan dan Lebaran di Jantung Sekularisme Eropa

Merayakan Idul Fitri di Prancis

Malam takbiran pada 1 Mei 2022 di Prancis sepi. Tidak ada gema takbir sama sekali. Huda menduga hotel tempat tim menginap jauh dari komunitas muslim. Hotel lebih dekat dengan pusat kota dan menara Eiffel yang menjadi ikon Paris.

"Sama seperti malam-malam biasanya, hanya bar, kafe dan restoran yang ramai riuh obrolan pelanggannya," tutur Huda.

Huda dan tim shalat Idul Fitri di Kedubes Indonesia di dekat Eiffel. Mereka mendapat undangan shalat Id di sana. Harus konfirmasi terlebih dahulu, karena kuota dibatasi 150 orang saja.

Baca Juga: Perjuangan 1 Persen Umat Islam di Florence Jaga Ibadah, Ukhuwah dan Toleransi

Di Paris ada komunitas muslim Perhimpunan Masyarakat Islam Indonesia Prancis (PERMIIP) . Komunitas ini yang mengkoordinir pelaksanaan Shalat Id dan menghidupkan kajian-kajian selama Ramadhan di beberapa tempat di Prancis.

Pengalaman Ramadhan dan Lebaran di Jantung Sekularisme Eropa

Usai Shalat Id, Huda berkesempatan menikmati nuansa Idul Fitri seperti bermaaf-maafan dan makan makanan khas Indonesia. Sejenak setelah berpamitan, dia menyaksikan warga muslim dari berbagai negara ikut merayakan Idul Fitri.

Benarkah Prancis Batasi Agama dan Islam?

Selama di Prancis, Huda tidak merasakan secara langsung ada pembatasan agama, terkhusus Islam di negara tersebut. Dia mengaku dihargai sebagai sesama manusia dan sebagai penganut agama.

Baca Juga: Cara Pesepakbola Muslimah Lawan Larangan Hijab di Prancis

"Tidak ada pembatasan ibadah sama sekali. Ibadah diperbolehkan selama tidak mengganggu ketertiban umum," tutur Huda.

Hal itu terlihat dari muslimah-muslimah yang diperbolehkan memakai hijab dan gamis secara leluasa di publik, transportasi umum, dan lain sebagainya. Tidak ada rasisme terhadap mereka.

Pengalaman Ramadhan dan Lebaran di Jantung Sekularisme Eropa

Demikian juga saat pelaksanaan Shalat Id di Kedubes Indonesia di Paris. Umat Islam leluasa melaksanakan shalat Id di dalam gedung dan takbiran menggunakan pengeras suara.

Acara memang digelar di dalam gedung untuk menghormati warga non muslim di sekitar Kedubes yang tengah istirahat. Bahkan, polisi diterjunkan ke lokasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban di sekitar Kedubes.

"Nah yang belum tahu kalau di ranah kehidupan politiknya, karena dinas kami cuma sekedar urusan business to business disana dan cuma dua minggu di lapangan industrinya, belum ada informasi," tutur Huda.

Masjid di Prancis, Mudah Diakses?

Selama dua pekan di Prancis, Huda belum berkesempatan mengunjungi masjid-masjid di negara itu. Sebab jadwal dinas yang memang padat. Di tempat-tempat publik, seperti di stasiun kereta api bawah tanah metro atau museum-museum bersejarah, tidak ditemukan tanda-tanda masjid kecil di dalamnya seperti di Indonesia.

"Mungkin masjid disediakan tempat khusus yang bukan di tempat publik dan dikelola oleh komunitas muslim resmi disana seperti PERMIIP. Kebanyakan dari saya dan tim, sholat di hotel dijamak," kata Huda.

Hanya waktu shalat Id di Kedubes, Huda diberitahu bahwa banyak warga muslim Indonesia di Paris. Beberapa jamaah juga terlihat dari komunitas Arab dan Timur Tengah.

Saat halal bihalal online di kedubes dengan berbagai konjen dan perwakilan kedubes di beberapa daerah di Perancis, terlihat juga ada komunitas muslim Afrika di Bordeaux dan Marseilles.

"Di Paris saya juga menemukan sebuah bangunan mirip Masjid dengan kubah khas tapi dengan ujung kubah salib, saya kira itu masjid. Tapi ternyata senior memberi tahu bahwa tersebut adalah gereja kristen Orthodox," tutur Huda.

Pengalaman Ramadhan dan Lebaran di Jantung Sekularisme Eropa

Kesan Jadi Turis Muslim di Paris

Prancis merupakan negara sekuler dan cenderung liberal. Mereka bebas berekspresi di depan publik dengan aturan-aturan tertentu. Ibadah dan menganut agama diperbolehkan asal tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum.

"Orang-orang sini tidak pernah dan sangat membenci rasisme, terlihat dari cerita representative kami untuk tidak menyebut "negro" pada orang-orang imigran dari Afrika," ucap Huda.

Mayoritas orang Prancis sangat suka melempar salam persahabatan dengan orang yang belum dikenal sekalipun. Sapaan mereka "Bonjour". Mereka sangat taat aturan dan selalu mengedepankan orang menyeberang jalan.

"Makanan halal sudah sangat sering ditemui apalagi di pusat kota seperti Paris dan pusat perbelanjaan di kota-kota besarnya. Representative mitra kerja kami juga menghargai kami yang sedang berpuasa dengan makan siang sembunyi-sembunyi di saat jam sibuk kami di kelas," pungkas Huda.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)