LANGIT7.ID - , Jakarta -
Fear of missing out (
FOMO) atau takut ketinggalan tren menjadi penyakit mental yang lekat dengan anak muda masa kini. Tren sendiri bersifat tidak tetap atau sewaktu-waktu bisa berubah.
Pengamat sosial Puji Qomariyah mengatakan sindrom fomo ke depannya akan semakin punya derajat yang lebih.
"Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi fitur-fitur yang luar biasa. Maka itu, ke depannya fomo ini memiliki kelas yang lebih tinggi kedepannya," ujar Puji kepada Langit7, Kamis (19/5/2022).
Baca juga: Awal Sindrom Fomo, Pengamat Sosial: Berasal dari Didikan Orang TuaNamun, tambahnya hal tersebut tidak akan terjadi jika anak muda mampu memfilter mana yang baik dan buruk bagi mereka.
"Kecuali mereka tidak berpikir secara materialistis, tidak lagi
hedon dan lainnya. Disertai dengan adanya filter yang kuat, maka meskipun perkembangan teknologi sudah luar biasa, fomo tetap bisa dikendalikan," ucapnya.
"Tetapi ketika perkembangan teknologi tidak diimbangi dengan kesadaran dan pemahaman agama yang baik saya kira ini akan menjadi semakin membahayakan ke depannya," lanjut dia.
Lebih lanjut, Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM) ini mengatakan agama sangat penting untuk mengatasi sindrom ini.
"Agama merupakan salah satu filter untuk membentengi anak agar bisa mengendalikan diri. Dan itu dari mana asalnya? Tentunya dari orang tua," tuturnya.
Baca juga: Pengamat Sosial: Fomo, Dampaknya Banyak dan Berbahaya"Hijau putihnya anak itu tergantung bagaimana sosialisasi yang dilakukan di dalam keluarga, maka itu sangat penting ketika keluarga itu mengalami disfungsi keluarga, maka yang terjadi anak-anak nanti perkembangannya menjadi sangat buruk,"pungkas alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
(est)