Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home global news detail berita

Amerika di Ambang Resesi, Akankah Berdampak ke Indonesia?

Muhajirin Kamis, 26 Mei 2022 - 20:40 WIB
Amerika di Ambang Resesi, Akankah Berdampak ke Indonesia?
Ilustrasi (foto: thestreet.com)
LANGIT7.ID, Jakarta - Amerika Serikat disebut-sebut berada di ambang resesi. Dampak resesi itu dikhawatirkan akan berpengaruh ke perekonomian Indonesia.

Dosen Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya, Reinardus Suryandaru, menyebut Amerika Serikat memiliki peluang mengalami resesi ekonomi. Ada beberapa faktor pendorong yang memperkuat munculnya resesi ekonomi Amerika di waktu mendatang.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Amerika pada kuartal I pada 2022 sudah mencatat 1,4%. Itu dipicu turunnya pembelian inventory oleh korporasi besar karena sudah stock dari periode sebelumnya.

Kondisi ini bisa ditarik ke 2021. Pada tahun itu, Amerika mengalami supply shock, yakni kondisi di mana produksi barang kurang dapat memenuhi permintaan pasar. Akibatnya, ketika barang sudah diproduksi perlahan, korporasi ini melakukan pembelian secara masif.

Baca Juga: Banyak Startup Digital Alami Paceklik, Ada Apa?

"Pada 2021 korporasi berebut pasokan bahan baku. 2022 mereka masih memiliki banyak stok di gudang yang belum terjual," kata Reinardus di kanal YouTube-nya, Kamis (26/5/2022).

Kedua, faktor inflasi yang tinggi. Data terakhir, inflasi Amerika ada pada posisi 8,5%. Angka ini adalah angka tertinggi paling tidak 40 tahun terakhir. Adanya kondisi demand atau supply menyebabkan harga menjadi naik melalui mekanisme pasar.

"Inflasi di Amerika saat ini disumbang oleh kenaikan harga pangan, harga energi, dan biaya housing," katanya.

Ketiga, berakhirnya kebijakan quantitative easing (QE) oleh the fed atau Bank Central. kebijakan ini untuk menyuplai uang ke pasar dengan cara membeli aset keuangan yang ada di perekonomian Amerika. Harapannya agar ekonomi bisa bangkit. Kebijakan ini berakhir pada Maret 2022.

Keempat, naiknya suku bunga the fed. Alasannya simpel, ketika inflasi naik dan sudah di luar kontrol, apalagi mencapai 8,5 persen, maka respon otoritas moneter adalah menjinakkan inflasi.

"Suku bunga yang naik akan memperlambat konsumsi. Tujuannya untuk mengembalikan inflasi ke level yang wajar," tutur Reinardus.

Kelima, kenaikan imbal hasil dari surat berharga pemerintah Amerika Serikat ke angka 2,7%. Nilai ini kurang lebih sama dengan imbal hasil ketika ekonomi Amerika pada posisi krisis moneter 2008.

Baca Juga: Kenaikan Biaya Bahan Baku, Toyota Kehilangan Laba Capai 20 Persen

"Investor menilai prospek ekonomi Amerika menjadi lebih berisiko. Akibatnya, imbal hasil jadi lebih tinggi sebagai kompensasi risiko," ucapnya.

Keenam, saham-saham berbasis teknologi mulai berjatuhan. Adanya kombinasi kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi membuat prospek bisnis menjadi semakin tidak pasti di masa mendatang. Kemudian, mayoritas penjualan dan profit menurun setelah 5 tahun ke belakang mengalami pertumbuhan yang masif.

Reinandus mengatakan, mungkin investor melihat perusahaan teknologi yang sudah booming 5 tahun belakangan sudah tidak kuat. perusahaan teknologi tidak lagi menjadi model bisnis yang lebih solid untuk menghasilkan cash flow, profit, serta bidang bisnis yang jelas.

"Untuk saat ini kita hanya bisa berspekulasi bahwa ekonomi Amerika sedang menuju jurang resesi. Tapi kita tidak pernah tahu, bisa jadi situasi berubah sehingga ekonomi Amerika lebih baik," jelasnya.

Dampaknya Terhadap Indonesia

Amerika Serikat adalah salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Apapun yang terjadi pada Amerika, biasanya negara-negara lain akan terkena dampak. Namun untuk kasus Indonesia ada dampaknya, tapi terbatas.

Dampaknya tidak akan sedalam dengan negara-negara lain yang memiliki aktivitas perdagangan dengan Amerika atau memiliki kedalaman sistem keuangan yang terkoneksi dengan sistem keuangan Amerika.

Nilai perdagangan Indonesia dengan Amerika hanya 12%. Meskipun ada efek domino, tetapi terbatas. Dari sisi keuangan pun, Indonesia memiliki kedalaman koneksi keuangan dengan Amerika yang cukup rendah.

Baca Juga: Hadapi Tantangan Ekonomi Global, Ini 7 Arahan Presiden Jokowi

"Keruntuhan pasar keuangan di Amerika secara sistematik tidak terlalu berpengaruh dengan pasar keuangan di Indonesia. Karena dar sisi keterikatan tidak terlalu dalam," ucap Reindarus.

Di sisi lain, struktur ekonomi Indonesia 50% ditopang oleh aktivitas konsumsi domestik. Jadi, kalau perekonomian Amerika sedang menuju resesi, tapi di satu sisi masyarakat Indonesia bisa menjaga tingkat konsumsi domestik, maka perekonomian Indonesia sedikit banyak tetap stabil.

"Menjaga tingkat konsumsi domestik mampu meminimalisir dampak resesi Amerika ke Indonesia. Di sisi lain pemerintah dan otoritas moneter harus membuat kebijakan ekonomi yang kredibel untuk mendukung investasi masuk ke Indonesia," pungkas Reindarus.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)