LANGIT7.ID - , Jakarta - Pandemi Covid-19 memaksa usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia mengubah pola bisnis dengan menekankan pada online. Perubahan itu pun menumbuhkan perusahaan-perusahaan baru berbasis digital.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (UNPAD) Ina Primiana mengatakan lebih dari 60 persen UMKM mengalami penurunan usaha. Namun, 40 persen sisanya tetap meningkat baik kecil, menengah, dan besar akibat pandemi.
Baca juga: Pemerintah Ungkap Tantangan UMKM di 2nd DWG Side EventDi samping itu, di masa pandemi masih ada juga UMKM yang mengalami pertumbuhan penjualan hingga lebih dari 20 persen.
Ina mengungkapkan bahwa pada saat pandemi, UMKM yang bertumbuh tinggi yakni di bidang makanan minuman dan fashion.
Menurut pengurus pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini, ada 64,5 persen UMKM dikelola oleh kaum perempuan. Dari penelitian Sasakawa Peace Foundation & Dalberg ditemukan bahwa wirausaha perempuan di Indonesia cukup tinggi yaitu 21 persen.
"Jauh lebih tinggi di atas rata-rata global yang mencapai 8 persen. Artinya dari total 65 juta UMKM, perempuan itu sebenarnya banyak," ujar Ina dalam Webinar Womenpreneur & Financial Inclusion yang disiarkan secara live di YouTube KKI Official pada Jumat (27/5/2022).
Angka tersebut menjelaskan bahwa jumlah entrepreneur di Indonesia tidak kekurangan. Hanya saja, inovasinya masih rendah.
"Dalam global innovation index 2022 di 132 negara, Indonesia berada di ranking 87 dibandingkan dengan negara-negara lain yang lebih sedikit jumlah entrepreneurnya. Artinya kualitas dalam segi inovasi di Indonesia itu sangat rendah," ucapnya.
Menyinggung cara penjualan di tahun 2020 hingga 2021, UMKM Indonesia yang merambah ke e-commerce memiliki tujuan menjangkau konsumen lebih luas. Namun begitu, mereka tetap menggabungkan metode ini dengan penjualan offline.
Baca juga: Tingkatkan UMKM Halal Daerah, Indonesia Muslim Life Fair Siap Hadir di YogyakartaSedangkan untuk tingkat belanja konsumen Indonesia saat pandemi, rentang usia 16-64 tahun lebih tinggi dari negara lain.
"Belanja online selama pandemi di tahun 2020 mencapai 87,1 persen, paling tinggi dari negara lain," pungkasnya.
(est)