LANGIT7.ID, Jakarta -
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Tanah Air, ternyata berperan penting dalam
penyelenggaraan haji bagi jemaah di Tanah Air.
Hal itu bermula saat Indonesia belum merdeka, saat itu Muhammadiyah telah mendirikan Bagian Penolong Haji yang dipimpin oleh KH Sudjak.
Tepatnya saat Kongres Muhammadiyah ke-17 di Minangkabau pada 1930 silam, KH Sudjak merekomendasikan untuk membangun pelayaran sendiri bagi jemaah haji Indonesia.
Latar belakang Muhammadiyah mendirikan Lembaga Haji Muhammadiyah karena banyaknya ketidaksesuaian antara manasik haji dengan Sunnah Nabi SAW," kata Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Kota Tasikmalaya, Syarif Hidayat dalam keterangannya, Selasa (14/6/2022).
Baca Juga: Amien Rais dan Din Syamsuddin Satu Panggung, Bersatu Bahas Masa Depan MuhammadiyahPada tahun 1951, penguasa Orde Lama menghentikan keterlibatan pihak swasta dalam penyelenggaraan ibadah haji. Disaat yang bersamaan pemerintah mengambil alih seluruh penyelenggaraan haji.
"Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari Direktorat Urusan Haji dan Umroh Kementerian Agama Republik Indonesia," katanya.
Padahal, sambung dia, dalam beberapa hadits ditegaskan bahwa manasik haji haruslah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Terlebih, pelaksanaan haji merupakan ibadah mahdah yang bersifat ta’abbudi.
“Kita ini diperintahkan agar mengikuti beliau dalam prosesi haji. Jadi manasik itu harus seperti apa yang dicontohkan beliau,” katanya.
Dia menambahkan, kajian manasik haji yang sesuai sunah menitik beratkan pada miqat dan sa'i. Adapun miqat makani adalah batas yang menunjukan tempat dimulainya seluruh rangkaian ibadah haji.
"Sementara sa'i adalah berbolak-balik sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah demi melaksanakan perintah Allah (dalam umrah maupun haji)," ungkapnya.
(bal)