LANGIT7.ID, Jakarta - Aktivis Pendidikan dan Sosial, Hanif Azhar, merasa kaget saat pertama kali menginjakkan kaki di Talang Airguci, Desa Sugihan, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera-Selatan.
“Saya seperti memasuki lorong waktu. Saya masuk 2015, tapi berasa hidup pada tahun sebelum kemerdekaan. Tidak ada listrik, tidak ada apa-apa,” kata Hanif kepada LANGIT7.ID, Kamis (16/6/2022).
Sebagai Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar, Hanif tak lepas dari laporan yang harus dikerjakan. Itu punya tantangan tersendiri. Tidak ada listrik, sinyal pun lari-lari. Kata Hanif, HP harus digantung ke tempat tinggi seperti jendela rumah atau bahkan pohon untuk mendapatkan sinyal. Itu pun kalau ada.
“Kita banyak laporan, butuh koordinasi, jadi butuh listrik, lari ke desa melewati hutan untuk cas laptop sambil ngerjain laporan,” tutur Hanif.
Baca Juga: Cerita dari Muara Enim: Kaya SDA namun Masyarakat Miskin dan Pendidikan Tertinggal
Namun begitu, Hanif tak pernah patah semangat. Seperti anak-anak Talang Airguci yang selalu meluapkan asa di tengah keterbatasan. Anak-anak di sana sangat spesial. Mereka punya karakter yang unik. Ceria, semangat, perasa, dan kompetitif.
Secara kemampuan, anak-anak Talang Airguci sangat cerdas di bidang verbal dan linguistik. Mereka ahli dalam membuat cerita, syair, dan pantun. JIka ditugaskan membuat pantun, mereka dapat merangkai kata-kata Indah dalam sekejap.
Kemampuan menulis dan mendongeng mereka juga tak bisa diragukan. Mereka punya minat baca yang sangat tinggi, meski dengan keterbatasan sarana. Pernah suatu ketika Hanif memberi tugas menulis cerita kreatif sebanyak 6 halaman kertas HVS dalam waktu semalam.
Sebab, kala itu ada
deadline pengumpulan tulisan untuk lomba Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI). Ada 13 anak mengumpulkan cerita. TIdak kurang dari 6 halaman, bahkan ada yang dilebihkan.
“13 itu angka yang sangat fantastis, karena memang jumlah siswa di kelas jauh SDN 10 Rambang sangat sedikit. Siswa kelas 5 hanya 8 anak, kelas 4 hanya 3. Kelas 6 tidak ada, mereka belajar di sekolah induk,” kata Hanif.
Selain kecerdasan verbal dan linguistik, anak-anak itu juga pandai dalam bidang musik dan visual. Mereka adalah mesin fotokopi yang sangat cerdas. Mereka dapat meniru semua karya guru-gurunya, lalu memodifikasi dengan gaya mereka sendiri.
Mereka juga ahli dalam memainkan alat musik tradisional, khususnya angklung. Mereka sudah mengerti nada di usia dini. Bahkan, pengalaman unik ketika site visit Indonesia Mengajar ke Talang Airguci akhir Januari 2015 lalu, dua pengunjung dari Jakarta sempat terkagum dengan penampilan mereka.
Kecerdasan interpersonal mereka juga berkembang dengan baik. Percaya apa tidak, mereka akan berlomba-lomba untuk tampil di depan umum kalau ada kesempatan, baik itu menyanyi, menari, maupun berpidato.
Ketika pelajaran pun, mereka akan berlomba mengangkat tangan apabila guru melemparkan pertanyaan. Dapat menjawab atau tidak, itu urusan belakang, yang penting eksis dan berani tampil di depan.
Baca Juga: Pendidikan di Indonesia Tak Seindah Amanat Konstitusi
“Inilah membuat saya berinisiatif untuk membentuk klub
public speaking setiap kamis malam. Kegiatan ini pun menjadi acara favorit yang selalu mereka nantikan,” tutur Hanif.
Namun, apabila sudah dihadapkan dengan matematika dan logika, mereka seperti cacing kepanasan. Mati segan, hidup tak mau. Entah, apakah ada yang salah dengan angka-angka itu.
“Padahal mereka sekuat tarzan yang berani melawan monyet, ketika berebut buah rambutan di hutan, atau ular dan babi hutan ketika mandi di sungai kecil, atau sekedar bertarung dengan anjing gila untuk melindungi gurunya yang ketakutan,” tutur Hanif.
(jqf)