LANGIT7.ID, Cirebon - Ustaz Abdul Somad (UAS) datang ke Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon untuk bersilaturahmi dengan
Buya Yahya. Pertemuan tersebut diabadikan dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV pada Ahad (19/6/2022).
UAS datang saat
Buya Yahya tengah menyampaikan materi terkait hadits Arbain Imam an-Nawawi. Saat sedang menyampaikan nasihat, UAS tiba-tiba datang. Sontak Buya Yahya menghentikan ceramahnya sejenak.
“Masya Allah ada tamu Istimewa, Masya Allah,” tutur ucap
Buya Yahya melihat kedatangan UAS.
UAS masuk ke dalam masjid melewati beberapa jamaah. Seketika jamaah riuh karena ingin melihat sosok sang ustadz dari dekat. Jamaah yang berada di area tempat UAS berjalan tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka meraih tangan sang ustadz lalu menciumnya.
Baca Juga: Buya Yahya Gandeng Ustadz Derry Sulaiman Rilis Lagu Damai Bersama
UAS langsung maju ke depan dan menghampiri Buya Yahya yang berada di atas panggung. Ada pemandangan takzim saat keduanya bertemu. Buya Yahya langsung menarik tangan UAS sambil membungkukkan badan.
Buya Yahya ingin mencium tangan UAS. Namun, itu ditepis oleh UAS. Dia mengisyaratkan rasa hormat dan tak ingin tangannya dicium oleh Buya Yahya. Justru, UAS yang ingin meraih tangan Buya Yahya.
Pemandangan itu sangat menarik. UAS langsung memberikan pelukan. Setelah selesai berpelukan, Buya Yahya kembali ingin mencium tangan UAS. Namun, UAS yang seakan tak bisa menghindari itu balik mencium tangan Buya Yahya.
Buya Yahya lalu merangkul dan mempersilahkan UAS duduk di atas panggung. Keduanya terlihat mengobrol menggunakan bahasa Arab saling bertanya kabar “
Jazakumullah ala hudurikum,” kata Buya Yahya ke UAS.
Baca Juga: Cerita Lucu UAS Saat Masih Jadi Santri di Darul Arafah
Sebelum mempersilahkan UAS menyampaikan materi, Buya Yahya menyampaikan nasihat yang bersumber dari Imam Nawawi. Dalam nasihat itu, Imam Nawawi mengingatkan para tokoh agama akan tiga hal.
Pertama, seorang ulama tidak boleh ada hasad dalam hati, baik kepada ulama lain maupun kepada umat. Antara ulama satu dengan yang lain harus saling menguatkan dan mendukung. Bukan Malah sebaliknya.
“Sebetulnya, antara ustadz dengan ustadz itu adalah akan menjadi penguat, kalau kita beban 20 kilo terasa berat di Kepala, tiba-tiba ada yang mengambil 10 kilo, maka akan ringan. Begitu juga umat, tanggung jawabnya seorang Ustadz,” tutur Buya Yahya.
Kedua, ulama juga tidak boleh riya dan ujub. Riya berarti berbuat karena ingin dipuji oleh manusia. Sementra ujub, berbuat baik dan membanggakan kebaikan tersebut.
“Kapan itu? Macam-macam sebabnya. Ustadz bisa saja pamer tersembunyi di hati riya. Riya itu lembut banget. Bahkan dikatakan oleh Nabi, riya itu lebih lembut dari langkah kaki semut hitam di atas batu hitam yang berjalan di kegelapan malam,” ucap Buya Yahya.
Ketiga, ulama tidak merendahkan orang lain. Merendahkan tidak sekadar caci-maki, bisa juga dalam bentuk perbuatan kecil. Misal tidak menoleh saat dipanggil. Selain itu, Buya Yahya mengingatkan para jamaah untuk menata hati. Setiap majelis ilmu yang didatangi harus karena Allah. Tidak boleh ada niat lain.
Baca Juga: UAS Pantang Berhenti Khotbah Meski Dianggap Ekstremis
“Kalau ingin bertemu UAS hanya karena kemasyhuran beliau maka akan sengsara. Akan tetapi ingin bertemu, karena beliau seorang pembimbing dan pembawa pada kebaikan itulah yang benar,” ucapnya.
Sementara, UAS menyampaikan, tujuan hadir di tempat itu ada tiga hal. Pertama, menyambung silaturahmi. Kedua, ingin menuntut ilmu. Ketiga, memohon doa dari guru kita mudah-mudahan selalu istiqomah, selalu diberikan hidayah bimbingan Allah dan mati dalam keadaan husnul khatimah.
“Tujuan datang ke sini cuma tiga itu. Tiba-tiba di tengah-tengah ada kertas bertuliskan, ‘tolong Ustadz Berbicara sampai 17.45'. Merubah niat di tengah ibadah itu masih ikhtilaf para ulama, jadi tidak bisa merubah niat di tengah ibadah. Tapi kata Buya, silahkan bicara sampai sore,” kata dia.
(jqf)