LANGIT7.ID, Jakarta - Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu adalah semboyan bangsa Indonesia. Namun hal itu tidak cukup hanya jadi slogan semata dan harus ditanamkan sejak dini. Sebagaimana telah dilakukan di SD Negeri Tebet Barat 08, Jakarta Selatan.
Wakil Kepala Sekolah, Sudadi, mengatakan, siswa-siswi di sekolah itu memiliki latar belakang kepercayaan berbeda. Namun, mereka sudah dididik untuk saling menghargai satu sama lain.
“Kondisi peserta didik, SD Negeri Tebet Barat 08, ada yang muslim, ada yang nonmuslim,” kata Sudadi saat berbincang dengan LANGIT7.ID di halaman sekolah, Senin (18/7/2022).
Baca Juga: Memulai Tahun Ajaran Baru dengan PTM, Kembalinya Spirit Pendidikan ke Sekolah
Dia mencontohkan salah satu cara pendidik mendidik siswa hidup berdampingan. Setiap Selasa dan Jumat, siswa beragama muslim diimbau beraktivitas di mushalla. Sementara, non muslim diberi ruangan khusus untuk kegiatan rohani.
“Jadi, kegiatan itu kita laksanakan berbarengan. Ketika kegiatan muslim selesai, maka kegiatan non muslim juga selesai,” kata Sudadi.
Pada hari-hari lain, para siswa diajak untuk berkegiatan bersama. Seperti berkumpul di lapangan menyanyikan Indonesia Raya 3 Stanza dan Hymne Pramuka. Kerap juga guru mengajak semua murid makan bersama, dan aktivitas-aktivitas lain.
“Ya, untuk menanamkan sikap toleransi, saling menghormati baik masalah agama dan sebagainya, kita senantiasa memberikan arahan kepada anak-anak bahwa kita itu satu,” ucap Sudadi.
Baca Juga: Bukti Nyata Toleransi, Kampus Muhammadiyah Ini Diisi Mayoritas Mahasiswa Kristen
Siswa-siswi sekolah tersebut sudah menerapkan hal tersebut. Siswa muslim tak segan berbagi makan dengan siswa non muslim. Bahkan, banyak bocah wanita berjilbab tak sungkan berteman dengan siswi non muslim.
“Walaupun berbeda agama, suku, bangsa, status keluarga, berbeda ekonomi, tapi kita itu satu, yaitu keluarga besar SD Negeri Tebet Barat 08, yaitu NKRI,” tutur Sudadi.
(jqf)