LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan viral di media sosial seseorang bernama Gus Samsudin Jadab yang kerap melakukan pengobatan alternatif dengan ilmu supranatural yang seolah islami. Padahal praktik tersebut justru mengarah pada perdukunan yang bertentangan dengan akidah Islam.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon, Buya Yahya menekankan kepada umat Islam agar tidak sekali-kali datang kepada dukun yang berkedok tokoh agama.
Memang, tak sedikit orang yang datang ke dukun lalu sembuh. Tapi, itu sama halnya saat orang datang ke dokter abal-abal. Hanya kebetulan saja sembuh. Justru, kesembuhan itu bisa menyebabkan
istidraj.
Baca Juga: Berseteru dengan Gus Samsudin, Pesulap Merah Ingin Bongkar Dukun Berkedok Agama
“Kalau sembuh, bisa mengakibatkan
istidraj, justru akan semakin percaya dengan orang semacam itu. Ujungnya apa, percaya kepada orang semacam itu (dukun). Pada akhirnya petuah orang itu (dukun) akan didengar. Mengajak kepada kebatilan pun akan didengarkan,” ungkap Buya Yahya melalui kanal Al-Bahjah TV, dikutip Senin (1/8/2022).
Buya Yahya menegaskan, tidak boleh meminta doa kepada orang yang melanggar syariat. Entah itu dukung berkedok tokoh agama ataupun orang yang jelas-jelas mengaku sebagai dukun.
“Tidak boleh meminta doa kepada orang yang melanggar syariat. Tidak mungkin ada karomah diberikan kepada orang yang bermaksiat. Jadi, berobat harus memilih, medis kepada dokter yang ahli, ruqyah kepada orang yang dekat kepada Allah agar dikabulkan doanya,” ungkap Buya Yahya.
Muslim yang Cerdas Berobat kepada Dokter yang AhliManusia tidak diwajibkan mengubah ketentuan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Manusia hanya diwajibkan berusaha optimal dan maksimal. Hasilnya, Allah yang Maha Tahu.
Baca Juga: Sama-sama Dosa Besar, Ini Perbedaan Syirik dan Murtad
Termasuk dalam hal berobat. Allah tidak menurunkan satu penyakit kecuali ada obatnya. Itu merupakan ketentuan yang sudah Allah gariskan kepada umat manusia. Di antara ikhtiar untuk sembuh adalah datang ke ahli medis dan ahli ruqyah.
Orang yang cerdas pasti mudah paham. Dia mencontohkan, orang cerdas pasti datang ke dokter yang memang sudah terbukti dan punya sertifikat medis. Tidak mungkin datang ke dokter abal-abal.
“Tapi ada orang datang ke sana (dukun) kebetulan sembuh. Apakah kita akan datang ke dokter semacam itu? , tentu kita akan datang ke dokter yang ahli, karena dia punya ilmu,” ucap Buya Yahya.
Beda Antara Ruqyah dan Jampi-jampi DukunSama halnya dengan ruqyah atau doa. Orang cerdas pasti tidak akan datang ke dukun, karena yang mereka ucapkan bukan berasal dari Al-Qur’an dan hadits. Buya Yahya juga mewanti-wanti agar masyarakat tidak percaya kepada tokoh agama berkedok dukun.
“Sama, ruqyah atau doa. Masa iya datang didoakan kepada orang yang tidak kenal Allah, tidak shalat. Tapi sembuh, sama kayak pergi ke dokter bohongan, sembuh, tapi penyakit lain kena. Kalau ke dukun, imanmu yang kena,” ucap Buya Yahya.
Buya Yahya menegaskan ruqyah merupakan bacaan khusus yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, seperti lafadz doa. Bukan berupa ayat-ayat yang ditulis lalu disimpan dan diyakini punya khasiat.
Baca Juga: Undang Ustadz Faizar, Denny Sumargo Minta Diruqyah
"Kalau ditulis, namanya jimat. Makanya, jimat nanti hukumnya ada sendiri," kata Buya Yahya.
Ruqyah sudah familiar di telinga masyarakat Indonesia. Namun, kerap ruqyah disalahartikan menjadi jampi-jampi yang dipraktikkan oleh para dukun. Banyak orang menganggap para dukun mengucapkan doa sebagai ahli ruqyah.
“Ruqyah sering disalahartikan menjadi jampi-jampi. Maknanya mungkin doa, tapi kalau pakai bahasa jampi-jampi itu masuk ke wilayah perdukunan. Doa, berarti anda datang kepada orang yang mendoakan. Ruqyah atau berdoa, itu salah satu cara pengobatan seperti ke medis,” pungkas Buya Yahya.
(jqf)