LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 3 faktor penyebab munculnya
Islamofobia di Indonesia. Faktor-faktor ini adalah yang paling mainstream ditemui di tengah kehidupan bermasyarakat.
Hal itu dikatakan
Ustadz Wijayanto kepada Langit7, saat ditemui di Larazeta, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (19/8/2022).
Adapun ketiga faktor itu di antaranya sebagai berikut:
Baca Juga: Sejarah Munculnya Islamofobia, Ada yang Tak Ingin Umat Berkembang1. Orang tidak paham Islam Masih banyak orang yang belum betul-betul paham ajaran Islam. Bahkan hal itu juga ditemui dalam kalangan orang Islam itu sendiri.
"Jadi sebetulnya orang tidak paham, dan kita gagal mencerminkan Islam yang rahmatan lil 'alamin. Sehingga seolah-olah Islam dilihat negatif," katanya.
Padahal, lanjut dia, menolong seekor anjing dengan memberinya minum saja bisa masuk surga. Hal itu sesuai dengan yang disampaikan dalam hadis berikut, yang artinya:
“Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
"Artinya betapa Islam punya nilai kebaikan seperti ini, yang justru kadang gagal ditampilkan," katanya.
2. Orang Islam gagal mencerminkan agama yang rahmatan lil alaminDosen UGM ini menjelaskan, pada zaman Nabi SAW, ada orang dipenjara di Madinah. Orang ini ketika akan dibebaskan justru menolak dan lebih memilih tinggal di penjara.
"Dia memilih tinggal di penjara umat Islam daripada hidup bebas di negerinya sendiri. Dia merasakan damainya lingkungan umat Islam, karena di situ tertib aturan masyarakat madani.
3. Ada kepentingan orang-orang tertentuMenurut penceramah berusia 53 tahun ini, Islamofobia juga menjadi agenda tersendiri bagi orang-orang tertentu. Artinya, ada kepentingan orang-orang yang memang tidak suka Islam terus berkembang dengan kekuatannya.
"Ada orang yang ingin Islam tidak menjadi kekuatan tunggal, maka harus dipecah, dan muncul isu di sana-sini yang ada kaitannya dengan fulus," tambahnya.
(bal)