LANGIT7.ID, Jakarta - Takwa merupakan sikap taat kepada Allah SWT dan mau meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya. Bertakwa kepada Allah dilakukan dengan cara melaksanakan ibadah-ibadah wajib dalam Islam.
Ketakwaan kita kepada Allah SWT merupakan amalan yang akan menjadi penentu di hari akhir nanti. Apabila kita rajin menunaikan ibadah wajib, sunnah, dan menjauhi larangan-Nya, Insya Allah kita akan selamat di hari akhir kelak.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 1:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَىْءٌ عَظِيمٌ
Artinya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
Dalam tafsir as-Sa'di, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di mengatakan, Allah mengajak bicara seluruh umat manusia, supaya mereka bertakwa kepada-Nya yang telah merawat mereka dengan beragam kenikmatan, yang terlihat maupun tidak. Sepantasnya mereka takut kepada-Nya, dengan cara meninggalkan praktik syirik, perbuatan-perbuatan fasik serta maksiat, dan menaati perintah-perintah-Nya, sesuai dengan kemampuan mereka.
Baca Juga: Tafsir Al-Maidah Ayat 6: Islam Tempatkan Kesucian sebagai PerhatianSelanjutnya Allah memberitahukan tentang satu faktor yang bisa membantu mereka dalam merealisasikan ketakwaan dan memeringatkan mereka agar tidak meninggalkannya. Yaitu, informasi tentang kondisi-kondisi dahsyat di Hari Kiamat.
Allah berfirman, “Sesungguhnya kegoncangan Hari KIamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat),” tingkat kengeriannya tidak mampu diperkirakan dan tidak mampu diketahui bagaimana kenyataannya. Yang demikian itu, saat terjadinya Hari Kiamat, bumi mengalami kekeringan, bergetar dan bergerak-gerak, serta digoncang-goncangkan dengan goncangan yang sangat keras. Gunung-gunung terpecah-belah, tercabut (dari pangkalnya) dan menjelma pasir-pasir bertumpukan yang beterbangan, kemudian menjadi debu-debu yang berhamburan.
Berikutnya, manusia terbagi-bagi menjadi tiga golongan. Di saat itulah, langit terbelah, matahari dan bulan digulung, bintang-bintang jatuh berserakan. Kemudian, terjadilah kekacauan dan prahara yang mengerikan kalbu, menggelisahkan hati, memutihkan rambut anak-anak kecil, dan melenyapkan ketulian yang parah.
Baca Juga: 7 Program Prioritas Kemenag Harus Dipahami ASNSelaras, dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir karya Syekh Dr Muhammad Sulaiman Al Asyqar menjelaskan:
يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ
(Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu).
Yakni berhati-hatilah dari siksaan-Nya, maka berlindunglah darinya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya, yaitu dengan melakukan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan.
إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَىْءٌ عَظِيمٌ
(Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar).
Yakni goncangan yang merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat, goncangan di dunia yang terjadi sebelum hari kiamat; ini merupakan pendapat jumhur ulama tafsir. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah goncangan yang terjadi bersamaan dengan tiupan sangkakala hari kiamat.
Baca Juga: Efek Buruk Konsumsi Makanan Haram, Jauh dari Rahmat Allah SWT(zhd)